Malam Selikuran, Lampu Ting Diganti Lampion

SOLO – Pelaksanaan Malam Selikuran atau Lailatul Qadar di Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta berlangsung sederhana. Penyelenggaran Malam Selikuran ini digelar oleh GKR Koes Moetiah Pakoebuwono, tanpa melibatkan pihak dalam Keraton Kasunanan Surakarta.

Tradisi Malam Selikuran di Keraton Surakarta. Foto: metrojateng.com

Dimulai dari Siti Hinggil Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta, sebanyak empat jodang yang berisi 1.000 tumpeng, dikirab mengelilingi keraton dan berakhir di Masjid Agung Solo. Kemudian tumpeng tersebut didoakan dan dibagikan kepada abdi dalem dan masyarakat sekitar.

Sebagian abdi dalem berbaris sambil menabuh gamelan, sementara lainnya menyanyikan tembang Macapat Dandhanggula, yang diambil dari Serat Wulangreh karya Sunan Pakubuwono IV yang bertutur tentang Alquean sebagai sumber ajaran sejati serta rahasia malam seribu bulan.

Pengageng Wasono Wilopo Keraton Surakarta, KP Edi Wirabumi mengatakan dalam hitungan penanggalan Jawa, kegiatan malam selikuran jatuh pada Senin malam (4/6). Malam Selikuran ini digelar sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Ya memang ini bagian upacara adat khususnya malam 21 puasa, masyarakat Jawa dikenal Malam Selikuran, masyarakat Indonesia di kenal malam seribu bulan malam jatuhnya Lailatul Qadar. Karena memang dalam perhitungan keraton, malam 21 itu jatuhnya pada tanggal 4 malam 5, itu terbukti benar, kareba tanggal 29 lalu itu pas purnama,” jelasnya.

Edi menjelaskan perayaan ini lampu ting atau lentera yang sedianya digunakan untuk Malam Selikuran memang tidak bisa digunakan karena dikunci di dalam keraton. Sebagai gantinya pihaknya menggunakan lampion warna-warni dengan bentuk bulan dan bintang. Lampion tersebut dibawa beriringan dengan empat jodang. (MJ-25)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

5 + 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.