Home > METROJATENG PLUS > Seksologi > 5 Mitos Seputar Malam Pertama

5 Mitos Seputar Malam Pertama

man woman

HUBUNGAN intim di malam pertama menjadi idaman setiap pasangan yang baru menikah. Malam setelah prosesi pernikahan, setiap orang pasti membayangkan akan terjadi hubungan seks untuk kali pertama. Sang pria bakal melepas keperjakaannya, begitu pula dengan mempelai wanita yang sudah pasrah memberikan keperawanannya buat suami tercinta.

Tapi, tak jarang malam pertama menjadi pengalaman yang sangat buruk dan bisa mengacaukan keharmonisan sebuah rumah tangga. Hal itu tak terlepas dari adanya mitos-mitos yang telanjur melekat di masyarakat. Berikut ini beberapa mitos seputar malam pertama yang perlu Anda ketahui:

1.Darah di Malam Pertama

Anggapan bahwa malam pertama adalah proses penetrasi yang menyebabkan robeknya selaput dara sehingga selalu disertai dengan perdarahan dari vagina merupakan mitos yang paling banyak beredar dan tidak benar. Selaput dara wanita diciptakan dalam beberapa jenis, ada yang elastis, ada yang bentuknya berjaring ada yang bentuknya cincin sehingga tidak selalu proses penetrasi pada malam pertama menyebabkan terjadi robeknya jaringan dan terjadinya perdarahan. Dalam beberapa kasus, vagina seorang wanita berdarah setelah beberapa hari melewati malam pertama.

2.Seks yang Menyakitkan

Banyak wanita merasa tegang dan takut saat akan memasuki malam pertama. Informasi yang didapat secara turun temurun bahwa robeknya selaput dara akan diiringi rasa sakit membuat kaum Hawa justru tersiksa dengan bayangannya sendiri.

Padahal, Tuhan sudah menciptakan organ intim pria dan wanita sedemikian rupa sehingga vagina wanita cukup elastis untuk melahirkan seorang bayi. Untuk itu, penetrasi penis merupakan suatu yang alamiah yang dapat ditampung oleh vagina wanita. Perasaan rileks memegang peranan penting. Untuk itu diperlukan komunikasi dan foreplay yang baik agar suami-istri dapat merasakan hubungan intim yang lebih nyaman.

3.’Edi Tansil’

Perasaan tegang tak hanya menghinggapi wanita saat malam pertama. Para pria pun mengalami kondisi serupa. Mereka berharap bisa memuaskan pasangannya, sedangkan pengalaman seks masih minim. Ketegangan inilah yang bisa merusak konsentrasi dan ujung-ujungnya menjadi ‘Edi Tansil’ (ejakulasi dini tanpa hasil). Tapi, seiring frekuensi hubungan, biasanya pria akan mampu menahan keinginan ejakulasi dalam waktu yang lebih lama.

4.Orgasme

Anggapan bahwa malam pertama harus disertai orgasme kedua belah pihak merupakan bentuk penyesatan lainnya yang menjadi sumber bencana pada hubungan intim di malam-malam berikutnya. Karena mitos ini, seringkali pihak istri memalsukan orgasme sehingga akhirnya tidak terjadi komunikasi sehingga istri seringkali tidak merasakan orgasme dan suami tidak tahu menahu mengenai hal ini.

Padahal, siklus respons seksual pria dan wanita memang tercipta berbeda sehingga seringkali memang suami dan istri tidak dapat merasakan orgasme bersamaan atau istri seringkali tidak mengalami orgasme. Hal ini merupakan sesuatu yang harus dipahami pasangan suami-istri, dikomunikasikan bersama dan diperlukan kerja sama dari kedua belah pihak agar suami dan istri dapat merasakan kepuasan dan kenikmatan bersama.

5.Ukuran Penis akan Menentukan Kepuasan

Banyak pria yang akan menikah tidak percaya diri dengan ukuran penisnya. Mereka khawatir akan mengecewakan pasangannya saat malam pertama. Faktanya, untuk mencapai kepuasan, bukan ukuran yang menentukan, melainkan tingkat kekerasan atau kualitas ereksinya.

Selain itu, pemahaman akan wilayah sensitif dan sensual yang berbeda-beda pada setiap wanita lebih penting untuk dapat memuaskan istri. Para suami juga perlu memahami bahwa hubungan intim bagi wanita lebih banyak bertitik berat pada kedekatan emosional, perasaan dicintai, dihargai dan dilindungi. (*)

Ini Menarik!

Inilah 9 Tanda Jika Kamu Hamil

Share this on WhatsApp Kehamilan adalah kejadian paling penting dikehidupan suatu keluarga. Setiap orang dewasa …

Silakan Berkomentar