Malam 1 Suro, Warga Selo Larung Kepala Kerbau di Merapi

image
Kepala kerbau dan sejumlah ubo rampe sesaji dikirab menuju Joglo Lencoh, Selo.

RIBUAN warga memadati Joglo Lencoh, Desa Lencoh, dan sekitarnya Selasa (13/10) malam, tempat digelarnya ritual sedekah gunung. Dinginnya suhu di wilayah kaki Gunung Merapi dan Merbabu itu tak menyurutkan antusiasme warga. Dari anak-anak hingga orang tua, laki-laki dan perempuan memadati Joglo Lencoh. Tidak hanya masyarakat Selo, tetapi juga dari daerah lain. Acara ini juga menarik perhatian wisatawan.

Ritual sedekah gunung ini dilaksanakan warga di Kecamatan Selo, sudah sejak jaman nenek moyang. Digelar setahun sekali, pada malam tahun baru Hijriyah, 1 Muharram atau malam 1 Suro (dalam penanggalan Jawa). Dengan penyelenggaraan tradisi ini, dipercaya warga akan dihindarkan dari segala mara bahaya letusan gunung Merapi.

Prosesi upacara tradisi labuh kepala kerbau diawali dengan kirab kepala kerbau berikut ubo rampe sesaji lainnya menuju Joglo Lencoh. Selain kepala kerbau yang dibalut kain mori putih, juga ada tumpeng gunung berbahan nasi jagung dan beras. Serta sejumlah umbi-umbian.

Setibanya di Joglo Lencoh, kemudian dilakukan ritual dan doa-doa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar warga lereng Merapi diberikan perlindungan dari bahaya bencana maupun wabah penyakit serta diberikan hasil pertanian yang melimpah.

Setelah dilakukan doa bersama, pada tengah malam, kepala kerbau itu dibawa ke puncak Merapi. Kepala kerbau itu sebagai sesaji untuk dilabuhkan ke kawasan puncak Gunung Merapi atau tepatnya di Pasar Bubrah.

Upacara tradisi ini sudah dilakukan turun temurun sejak zamannya Sinuwun Paku Buwono VI Keraton Surakarta. Hingga kini tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat di kawasan lereng Merapi.

Menurut Tumar, tokoh masyarakat Desa Jrakah, tradisi ini dipercaya warga akan dihindarkan dari bahaya erupsi gunung Merapi. Ritual ini juga sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, warga selama ini telah diberi keselamatan dan rejeki.

Setelah rangkaian acara selesai dan kepala kerbau dibawa naik, ubo rampe lainnya yang ada langsung menjadi rebutan warga. Mereka berebut untuk ngalap berkah dari ritual tersebut.

Selain dihadiri masyarakat umum, tradisi yang penyelenggaraannya difasilitasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Boyolali ini juga dihadiri sejumlah pejabat Pemkab dan jajaran Muspida. Antara lain, Pj Sekda Boyolali, Sugiyanto, Wakapolres Kompol Aidil Fitri Syach, Kepala Disbudpar, Mulyono Santoso serta perwakilan Muspida dan Muspika Selo.

Kepala Disbudpar Boyolali, Mulyono Santoso, mengatakan tradisi tersebut merupakan kearifan lokal yang perlu dilestarikan agar jangan sampai punah. Selain sebagai sarana memohon keselamatan, sekaligus untuk menarik wisatawan ke Selo. (MJ-07)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

37 + = 46

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.