Majelis Improvisasi, Berkesenian Tanpa Kendali

SEMARANG – Perpaduan berbagai alat musik yang membentuk suara tak beraturan terdengar di pelataran belakang Hysteria, Jalan Stonen Nomor 29, Semarang, Sabtu (30/6) sore. Sebanyak lima orang pemusik lintas genre dari sejumlah daerah saling mengisi kekosongan suara dengan memainkan alat musik yang mereka pegang.

Media Improvisasi memberi ruang berekspresi bagi pemusik lintas genre. Foto: efendi

Majelis Improvisasi, itulah nama kegiatan tersebut. Digelar untuk pertama kalinya di Semarang, kegiatan tersebut bertujuan untuk memberi ruang ekspresi bagi para pemusik lintas genre serta merasakan sensasi bermusik tanpa kendali.

“Jadi ini acara jamming improvisasi, cara bermainnya adalah bebas komunikasi sesuai keinginan para personelnya, siapa aja yang mau bergaul disini, bermain di sini boleh saja,” ujar salah satu penggagas Majelis Improvisasi, Andi Pratomo atau kerap di sapa kartun usai pertunjukan.

Pada kegiatan pertama kali ini ada lima musisi berkomunikasi menggunakan suara yang keluar dari alat musik yang mereka mainkan. Kelimanya ialah Adi Laksito merupakan pemain bass sebuah band death metal Diminish Preception, Albertus Arga merupakan personel grup musik eksperimental Samber Nyawa dan di atas panggung Majelis Improvisasi ia menggerakkan gergaji yang menimbulkan suara gesekan.

Kemudian Debby Selviana, satu-satunya personel perempuan yang turut meramaikan komunikasi suara dengan vokalnya, Gerry Pindonta merupakan salah satu personel Grup Musik Samber Nyawa. Terakhir Nanda Goeltom, pemain saksofon di Grup Musik Absurdaniton.

“Ada dari mereka yang tak saling kenal, mereka menyatu dengan suara yang keluar dari alat musik yang mereka mainkan,” imbuh Kartun.

Memang dalam permainannya, Majelis Improvisasi memberi kebebasan pada setiap pemusik yang turut serta di kegiatan ini. Tanpa arahan, tanpa aturan, tanpa kendali, mereka memainkan alat musik yang dipegang sesuai dengan kemauan. Tak ada alur musik yang direncanakan, hanya suara tak beraturan yang melantun di sepanjang sesi.

“Rencananya kami akan adakan kegiatan ini setiap dua bulan sekali. Siapa saja yang akan meramaikan panggung ini boleh saja namun tetap harus melalui kurasi terlebih dahulu, dan harapannya juga menambah pengetahuan sesama musisi menambah kenalan dan terbangun sebuah interaksi antar sesame pemain maupun pemain dengan penonton,” kata Kartun.

Ia juga mengatakan bahwa dalam Majelis Improvisasi ini tidak melulu soal musik. Kegiatan ini merupakan wadah bagi para pelaku seni lintas disiplin. “Bisa saja yang mau performing art, mau nari juga bisa tapi tetap improvisasi, tanpa konsep dan tanpa arah, sesuai kemauan seniman itu sendiri,” tukas Kartun.

Salah satu peserta dalam kegiatan pertama, Nanda Goeltom mengatakan musik eksperimental dengan sistem improvisasi seperti ini bisa membentuk sebuah komunikasi antar pemusik di atas panggung. Tak hanya komunikasi, emosi juga bisa terlatih di atas panggung ini dengan mengikuti permainan tanpa kendali ini.

“Memang dalam permainan ini ada saatnya semua pemain memainkan alat musiknya semua secara bersamaan. Tapi tidak selalu seperti itu, karena kalau kayak gitu kita hanya bertarung emosi saja. Tapi esensinya antar pemain mendengarkan pemain lainnya disitu ada komunikasi dan saling mengisi kekosongan. Namun meskipun di panggung ini memainkan musik tak beraturan tetap tidak boleh dihilangkan kemampuan bermusik yang dimiliki,” tukas Nanda. (fen)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

37 − 28 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.