Home > JATENG RAYA > Lumpia Cap Go Meh, Sajian Paling Ditunggu Saat Imlek Tiba

Lumpia Cap Go Meh, Sajian Paling Ditunggu Saat Imlek Tiba

Sejumlah warga menikmati lumpia Cap Go Meh di Pasar Imlek Semawis

SEMARANG – Sejumlah warga Tionghoa merayakan datangnya Tahun Ayam Api di Semarang dengan semarak. Saat menggelar acara Semawis di sepanjang Jalan Gang Pinggir, mereka tak hanya menampilkan wayang Potehi, tapi penduduk setempat juga punya kreasi makanan yang unik.

Ya, Lumpia Cap Go Meh merupakan kudapan lezat yang dapat menggoyang lidah pengunjung di Semawis. Panitia acara berkata makanan itu baru ditampilkan dua tahun terakhir. 

Menurut Harjanto Halim, Ketua Komunitas Pecinan Pasar Semawis, Lumpia Cap Go Meh punya nilai alkulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang kuat. Makanan itu hanya ada saat Imlek tiba.

“Filosofinya ada interaksi etnis Jawa dan Tionghoa karena ada bumbu kental sangat khas Jawa. Ini hanya ada di Semarang san toska dapat ditemukan di tempat lainnya termasuk di Cina,” terangnya kepada metrosemarang.com, Kamis (26/1).

Dalam sajiannya, lumpia atau lunpia dalam aksen Tionghoa diguyur sayur lodeh ditambah sambil goreng ati untuk menambah citarasa. Menurut Halim menu tersebut hanya ada di Semarang sebagai simbol perpaduan budaya yang indah sehingga mampu menciptakan sesuatu yang harmonis. 

“Bila tahun-tahun sebelumnya kita pakai lontong, maka dua tahun terakhir kita hidangkan pakai lumpia, biar tambah enak,” katanya.

Lumpia Cap Go Meh hanya disajikan saat perayaan Semawis digelar di Pecinan Semarang. Menu itu disajikan tepat saat acara makan bersama ‘Tok Panjang’ dibuka pada Selasa kemarin.

“Imlek sebenarnya dirayakan mirip Idul Fitri dengan mengumpulkan semua keluarga di satu meja panjang. Untuk Tok Panjang tahun ini diikuti 300 orang. Kita ingin mengakrabkan semua warga Tionghoa baik  yang tinggal di Pecinan maupun para turis,” paparnya, seraya menambahkan bahwa Sewawis tahun ini mengusung tema Obar-Abir untuk menunjukan keberagaman warga yang tinggal di Semarang.

Tjahjadi, Ketua RT di Pecinan menambahkan hingga saat ini di wilayahnya masih tersisa 3.000 penduduk asli Tionghoa. Keberadaan mereka telah membaur jadi satu dengan warga pribumi setempat. 

“Dan perayaan Imlek di jalanan Gang Pinggir sudah berlangsung 14 kali sejak 2002 silam. Semarang jadi pioner Imlek di Indonesia,” tukasnya. (far)

Ini Menarik!

Pemkab Kampar Pelajari Kawasan Industri di Kendal

Share this on WhatsApp  KENDAL – Keberhasilan Kabupaten Kendal mendirikan kawasan industri berskala besar menarik …

Silakan Berkomentar