Lawan Undip, Suteki Dibekingi 1.000 Pengacara

SEMARANG – Keputusan Universitas Diponegoro untuk menggelar sidang Dewan Kehormatan Kode Etik (DKKE) atas kasus ujaran kebencian, rupanya mendapat perlawanan dari Guru Besar Fakultas Hukum, Prof Suteki.

Prof Suteki saat ditemui wartawan di ruangannya Gedung MIH Undip Imam Barjo Pleburan Semarang. Foto: fariz fardianto

Bahkan, Suteki mengancam bakal menempuh jalur hukum bila pihak rektorat nekat menjatuhkan sanksi terhadapnya. Ia menganggap upaya Undip yang akan menghadirkannya dalam sidang Dewan Kehormatan Kode Etik (DKKE) sangat janggal.

“Saya belum pernah dipanggil, belum sekalipun diminta klarifikasi. Tapi kok tiba-tiba rektorat sudah bertindak lewat empat pernyataan yang disebar di media. Lalu munculah sidang etik pertama, saya kaget. Itu gegabah. Saya akan menempuh jalur hukum jika keputusannya merugikan saya,” kata Kepala Prodi Magister Ilmu Hukum Undip tersebut, saat ditemui di Undip Imam Barjo, Rabu (23/5).

Menurutnya apa yang ia lakukan selama ini tidak pernah merugikan Undip. Rektor Undip Prof Yos Johan Utama, ia mengklaim tak pernah keberatan dengan gagasan yang ia lontarkan di jejaring media sosial (medsos).

“Kampus tidak keberatan. Hanya saja jajaran rektorat ternyata mendapat tekanan dari luar kampus,” tuturnya.

Apalagi, ia mengatakan gagasannya yang diunggah pada medsos merupakan cara seorang profesor demi mencerdaskan kehidupan bermasyarakat. Ia pun mengaku lebih memilih jejaring medsos sebagai alat menyebarluaskan gagasan ketimbang memakai media cetak.

“Karena profesor tugasnya menyebarkan gagasan. Sehingga medsos jadi alat saya untuk menyebarluaskan gagasan ketimbang media cetak,” tuturnya.

Ia menyatakan telah mendapat dukungan seribu advokat untuk melawan Undip. Ia akan melawan Undip jika nekat menjatuhkan sanksi tegas. “Kalau sanksi teguran wajar saja. Tapi kalau sampai dipecat, Indonesia pasti geger. Karena ada 1.000 mantan mahasiswa Undip yang sekarang jadi advokat siap memback-up saya,” tegasnya.

Ia menambahkan sangat menyesalkan langkah Undip yang tergesa-gesa mengambil sikap terkait postingannya. Sebab, ia selama ini merupakan guru besar yang kerap menjadi pengajar mata kuliah Filsafat Pancasila sejak 24 tahun terakhir.

“Saya kan pengajar mata kuliah Pancasila. Sering ngajar sila ketiga Pancasila di ruang kelas. Dengan background keilmuan seperti itu, yang perlu ditegaskan, saya bukan anggota HTI dan tidak anti NKRI apalagi Pancasila,” tukasnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

40 + = 48

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.