Home > JATENG RAYA > EKONOMI BISNIS > Kredit Mitra, Bukti Keberanian Gubernur Sediakan Pinjaman Murah pada Masyarakat

Kredit Mitra, Bukti Keberanian Gubernur Sediakan Pinjaman Murah pada Masyarakat

TINGGINYA angka kemiskinan dan terbatasnya akses masyarakat untuk mendapatkan modal kerja menjadi permasalahan yang terus membayangi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dari tahun ke tahun. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, tahun ini sebanyak 15 kabupaten/kota di Jawa Tengah masuk dalam zona merah kemiskinan.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Dirut Bank Jateng Supriyatno saat merilis skema bantuan dan pembiayaan untuk pedagang Pasar Johar di Kantor Gubernur, Rabu (13/5/2015). Foto: metrosemarang.com/dok
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Dirut Bank Jateng Supriyatno saat merilis skema bantuan dan pembiayaan untuk pedagang Pasar Johar di Kantor Gubernur, Rabu (13/5/2015). Foto: metrosemarang.com/dok

Mengatasi permasalahan tersebut, Ganjar mengatakan, tidak bisa hanya bertumpu pada APBD. Sebaliknya, masyarakat harus distimulasi agar dapat membuka usaha dan menciptakan kesejahteraannya sendiri.

Untuk itu, Gubernur Ganjar menggagas program kredit mikro sejahtera (Mitra) yang menyediakan bantuan modal tanpa agunan pada masyarakat, baik yang sudah memiliki usaha maupun yang baru akan memulai usaha, dengan bunga yang sangat rendah.

“Saya terinspirasi dari kebakaran Pasar Johar. Para pedagang kecil butuh modal bunga rendah, namun mereka justru berhadapan dengan prosedur kredit yang sangat rumit. Di sinilah kami merasa, pemerintah harus ikut membantu menyediakan bantuan modal yang murah, mudah dan tidak berbelit-belit pada masyarakat kecil,” katanya.

Penyelenggaraan program kredit ini diserahkan kepada Bank Jateng. Dan pada Senin (28/3), bertempat di Kantor Gubernur Jateng, Jalan Pahlawan, Semarang, Bank Jateng resmi meluncurkan dua produk kredit Mitra, yakni Mitra Jateng-25 dan Mitra Jateng-02.

Ganjar mengatakan, Mitra Jateng-25 diperuntukkan bagi pelaku usaha yang sudah menjalankan usahanya minimal enam bulan, dibuktikan dengan surat keterangan usaha dari kelurahan setempat. Pelaku usaha boleh mengambil kredit hingga Rp25 juta, dengan jangka waktu kredit maksimal hingga tiga tahun. Adapun bunganya hanya 7 persen per tahun, lebih rendah dibandingkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang sebesar 9 persen per tahun.

Adapun Mitra Jateng-02 diperuntukkan bagi pelaku usaha yang baru memulai usahanya. Nominal kredit yang diberikan sebanyak Rp 2 juta dengan suku bunga kredit 2 persen per tahun.
Mitra Jateng-25 maupun Mitra Jateng-02 diberikan tanpa agunan dan tanpa biaya administrasi.

“Asal ada usahanya, silakan mendaftar. Jangan pikirkan agunannya apa. Yang jadi agunan ya usaha itu sendiri,” ujar Ganjar.

Penyelenggaraan kredit Mitra Jateng ini menjadi gebrakan sekaligus terobosan Ganjar dalam masa kepemimpinannya sebagai Gubernur Jateng. Ini mengingat, selama ini belum ada gubernur yang berani meluncurkan produk kredit tanpa agunan dengan suku bunga yang cukup rendah, hanya 7 persen per tahun.

“Ini bukti keberanian Gubernur dalam menyediakan kredit murah pada masyarakat. Bank dan pemerintah provinsi lain harusnya belajar dari Jawa Tengah,” kata Direktur Utama Bank Jateng, Supriyatno.

Proses Mudah

Wisnu Adhi Nugroho, pengusaha kaos asal Semarang membuktikan kredit murah dan mudah yang digagas Gubernur Ganjar tersebut.

“Saya pikir hanya akan mendapat pencairan 10-15 juta, karena usaha saya terbilang masih kecil. Tapi ternyata dapat pencairan kredit Rp 25 juta full, tanpa ada potongan apapun. Bunganya sedikit, sehingga saya bisa mengembangkan usaha tanpa terbebani bunga yang tinggi. Kalau di bank lain, sudah bunganya tinggi, pencairannya masih dipotong biaya administrasi dan lain-lain,” tuturnya.

Proses pengajuan kredit pun terbilang mudah dan sederhana. Wisnu hanya melampirkan KTP, KK, surat nikah, surat keterangan usaha dari kelurahan, dan bukti pembukuan usaha selama enam bulan ke belakang.

“Prosesnya dari pengajuan sampai pencairan cukup mudah dan cepat. Sebelumnya saya pikir, kalau pinjaman tanpa agunan pasti syaratnya rumit dan prosesnya panjang. Ternyata setelah saya coba ajukan, sangat mudah dan tidak bertele-tele seperti lembaga perkreditan lainnya,” imbuhnya.

Tantangan

Direktur Bank Jateng Supriyatno memaparkan, dana yang dialokasikan untuk program kredit Mitra Jateng-25 sebesar Rp 350 Miliar atau Rp 10 Miliar per kabupaten/kota. Adapun Mitra Jateng-02, dana dialokasikan sebesar Rp 50 Miliar untuk seluruh Jateng.

Seluruh dana yang disediakan untuk penyelenggaraan program Mitra Jateng murni dari Bank Jateng, tanpa adanya subsidi pemerintah. Bagi Bank Jateng, nominal ini terbilang kecil karena hanya 1 persen dari portofolio Bank Jateng yang mencapai Rp 37 Triliun.

Namun bagaimanapun, menyediakan produk kredit tanpa agunan dan berbunga rendah menjadi tantangan tersendiri bagi Bank Jateng. Selain karena potensi keuntungan yang lebih kecil dibandingkan produk kredit lainnya, Bank Jateng juga harus menyiapkan strategi untuk meminimalkan risiko kredit macet.

Salah satu strategi untuk meminimalkan resiko kredit macet yakni dengan bekerja sama dengan para pendamping usaha yang ada di tiap daerah. Pendamping ini berasal dari koperasi, tim penyuluh pertanian, maupun pendamping di tingkat kelurahan, yang nantinya bertugas memantau kegiatan usaha debitur tiap hari.

Namun menurut Supriyatno, itu adalah bentuk kepedulian Bank Jateng terhadap pembangunan masyarakat, khususnya untuk memacu daya saing usaha mikro-kecil serta perekonomian masyarakat di Jawa Tengah. “Memang jadinya ribet di kami tapi ini bagian dari cost yang harus kami keluarkan, sekaligus bentuk keberpihakan kami pada masyarakat kecil. Bank Jateng mengedepankan pembangunan daerah baru memikirkan laba usaha,” katanya.

Dicontoh Presiden

Lima bulan sejak diluncurkan, respons masyarakat terhadap Mitra Jateng-25 dan Mitra Jateng-02 cukup baik. Berdasarkan data Bank Jateng, hingga Kamis (25/8), Mitra Jateng-25 telah disalurkan pada 2.792 debitur dengan total nilai kredit mencapai Rp 52,2 Miliar.

Melihat animo masyarakat, Supriyatno optimistis penyaluran kredit Mitra Jateng-25 bisa mencapai target dalam waktu satu tahun. “Kalau sesuai target dalam satu tahun ini, tahun depan (plafon kredit) kemungkinan akan kami tambah,” katanya.

Kesuksesan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam menyelenggarakan kredit murah mendapat apresiasi dari Presiden Joko Widodo. Bahkan, menurut Ganjar, tahun depan Presiden Jokowi berniat menurunkan suku bunga KUR dari 9 persen menjadi 7 persen per tahun. “Presiden saja belajar dari Jawa Tengah,” katanya.

Supriyatno berharap terobosan yang dilakukan Gubernur Ganjar bersama Bank Jateng ini dapat menular ke provinsi lainnya.

“Saat ini perbankan masih mengharapkan margin yang tinggi dari produk kredit. Padahal jika mau, bank bisa menyalurkan kredit murah tanpa harus menunggu program pemerintah, seperti KUR. Kesadaran itulah yang harusnya ditekankan, khususnya di kalangan bank pembangunan daerah. Intinya adalah kesediaan untuk mengurangi potensi keuntungan,” imbuhnya. (LAU)

Ini Menarik!

Belanja di Tokopedia Kini Bisa Bayar di Kantor JNE

Share this on WhatsApp SEMARANG – JNE bekerjasama dengan Tokopedia menciptakan kemudahan kepada para UKM …

Silakan Berkomentar