Beranda RAMADAN MENU RAMADAN Kisah Warga Keturunan Koja Jaga Eksistensi Bubur India di Semarang

Kisah Warga Keturunan Koja Jaga Eksistensi Bubur India di Semarang

37
0
BERBAGI

BARA api mulai membakar tungku kayu ketika Anas Salim sibuk meracik ragam rempah-rempah sebagai bumbu utama bubur India.

Ahmad Ali, seorang keturunan Koja saat menyiapkan bubur India di Masjid Pekojan. Foto: fariz fardianto

Rambutnya yang mulai memutih tak menyurutkan semangat pria berusia 76 tahun ini untuk menyiapkan bubur India sebagai sajian utama untuk berbuka puasa di Masjid Jami Pekojan, Kampung Petolongan, Semarang.

“Ini resep masakan turun-temurun sejak dari kakek saya yang asalnya dari Negara Bagian Gujarat, India,” kata Anas, Jumat (18/5).

Anas merupakan pewaris bubur India ketiga setelah mendapat resep dari sang kakek, bernama Harus Rofii dan Salim Harun yang tak lain ayahandanya.

Keluarga besar Anas secara teguh menggunakan bumbu kaya rempah sebagai penguat rasa bubur India. “Kakek saya seorang mubalig yang kerap mensyiarkan agama Islam dari perbatasan India-Pakistan. Kemudian lambat-laun memilih berdagang dengan komunitas orang Koja dan masuk Indonesia sejak 1800 silam atau sekitar 120 tahun lalu,” terangnya.

Perjalanan komunitas Koja pun berlanjut sampai ke tepi Pantai Semaran dan tiba di salah satu sudut kawasan Mataram yang kini dikenal dengan Kampung Petolongan.

“Di sinilah, awal mula orang-orang Koja berdagang sarung, tasbih sampai ragam rempah-rempah yang dibawa langsung dari tanah kelahirannya. Lalu karena punya resep bubur India yang sangat khas itu, maka dikenalkan kepada penduduk pribumi lokal,” lanjutnya.

Bubur India khas Pekojan yang melegenda. Foto: fariz fardianto

Dari semula hanya ada 10-15 orang, kini jumlah orang Koja yang mendiami kampung tersebut mencapai ratusan jiwa. Rumah-rumahnya bercorak khas campuran Pakistan-Melayu dengan dinding berwarna hijau muda.

Bubur India juga semakin melekat di hati masyarakat setempat. “Sekarang tiap Ramadan disediakan 200 sampai 300 porsi bubur India. Sebagai variasinya juga ada campuran kuah gulai, sambel goreng, ungkep dan terik,” tuturnya.

Bubur India dibuat selama tiga jam. Sejak bakda Dzuhur sampai selepas salat Ashar, Anas mengaku dibantu tiga warga keturunan Koja lainnya untuk mengolah bubur India.

Kemudian tepat pukul 15.30 WIB sajian khas warga Koja ini pun siap dihidangkan dalam mangkuk-mangkuk kecil bersama segelas susu atau teh ditambah beberapa bungkus kurma. “Dulunya ada tambahan zam-zam. Tapi karena pasokannya disetop sama Pemerintah Arab Saudi maka diganti susu,” akunya.

Ia bilang hidangan bubur India kala buka puasa punya arti mendalam bagi warga sekitar. Sesuai hadist Rasulullah SAW, katanya, barang siapa yang memberikan makanan buka puasa maka ganjarannya di akherat bertambah banyak.

“Dan barang siapa yang senang dengan datangnya Ramadan maka diharamkan jasadnya di neraka. Makanya, di sini selalu dibagikan bubur gratis selama 30 hari Ramadan,” ujar Anas. (far)