Beranda JATENG RAYA Kisah Rumaniyah, Anak Buruh Tani yang Jadi Anggota Polisi

Kisah Rumaniyah, Anak Buruh Tani yang Jadi Anggota Polisi

422
0
BERBAGI
anak buruh tani anggota polda jateng
Rumaniyah bersama kedua orangtuanya, Kamis (14/3). (foto: metrojateng.com/Efendi)

SEMARANG – Salah satu bukti nyata bahwa untuk menjadi seorang anggota polisi tidak membutuhkan uang ratusan juta ialah Bripda Rumaniyah (19). Dengan kegigihannya, ia mampu mematahkan rumor yang tersebar di masyarakat bahwa untuk menjadi seorang anggota polisi harus menyiapkan sejumlah uang ‘pelicin’ agar bisa lolos tahap seleksi.

Di tengah keterbatasan biaya lantaran kedua orang tuanya yang buruh tani, Rumaniyah berusaha keras untuk menjadi seorang polisi wanita. Jalan terjal pun ia lalui demi keberhasilan setiap tahapan seleksi dalam pendaftaran perekrutan anggota kepolisian. Mulai dari biaya pas-pasan, hingga uang transportasi yang digunakan bekal pun sedianya untuk melunasi utang orangtuanya.

“Sejak kecil memang saya ingin membahagiakan orangtua. Saya sangat bersyukur karena dapat diterima menjadi anggota polisi. Apalagi kami ini dari keluarga besar yang tinggal di rumah kecil, ayah saya hanya seorang buruh tani yang tidak punya sawah sepetak pun,” ujar Rumaniyah saat ditemui di sela Rakernis Biro SDM Polda Jateng di Wisma Perdamaian, Kamis (15/3).

Rumaniyah kemudian berkisah tentang perjalanannya sebagai anak buruh tani hingga menjadi anggota polisi. Berawal saat ia lulus dari SMK Negeri Jawa Tengah pada 2017 lalu, ia mencoba untuk mengikuti seleksi penerimaan anggota polisi. Sebelumnya ia juga sempat melamar beberapa pekerjaan ditempat lain, hingga akhirnya nasib membawanya pada seleksi penerimaan bintara polisi yang diselenggarakan oleh Polda Jawa Tengah.

“Saya juga kan minim biaya, selama saya menjalani tes seleksi saya menginap di asrama tempat saya sekolah dulu meskipun saya sudah lulus. Saya minta ijin sama pengurusnya untuk numpang selama menjalani tes seleksi penerimaan bintara polisi, dan Alhamdulillah diperbolehkan,” kata Gadis kelahiran 10 Agustus 1998 itu.

Dalam pelaksanaan seleksi, Rumaniyah mengaku tidak mempunyai pengetahuan lebih tentang bidang yang ia daftarkan. Ia mendaftar bintara polisi di bidang IT, padahal semasa SMK ia mengambil jurusan Otomasi Industri.

“Sebenarnya saya awalnya ingin menjadi polwan umum, namun karena tinggi saya nggak cukup maka saya mencoba apa yang saya bisa. Meski saya tidak mempunyai basic tentang IT saya mencoba, kemudian saya meminta bantuan guru komputer di sekolah saya dan Alhamdulillah beliau mau,” imbuh gadis kelahiran Pekalongan tersebut.

Tekad Rumaniyah untuk membahagiakan kedua orang tuanya sudah bulat. Dengan usaha yang maksimal, ia bersungguh-sungguh menjalani tahapan demi tahapan seleksi penerimaan bintara polisi. Berbeda dengan rekan seperjuangannya, Rumaniyah menjalani tahapan demi tahapan seleksi penerimaan bintara seorang diri tanpa didampingi orang tua. Meski demikian, selama menjalani seleksi, Rumaniyah mengaku dipertemukan dengan banyak calon Bintara yang kemudian dekat dengannya.

“Tapi saya yakin di belakang saya masih banyak orang yang mendoakan agar sukses, termasuk orangtua. Saat seleksi saya banyak dipertemukan dengan orang berhati malaikat seperti teman saya dan lainnya.Mereka sangat baik walaupun baru kenal dan tidak membedakan saya meski dari keluarga tidak mampu. Akhirnya saya bisa lolos semua seleksi. Itu sekali mencoba saja,” papar anak keenam dari tujuh bersaudara pasangan Kliwon dan Miskiyah itu.

Air matanya Rumaniyah tak tertahan tatkala ia mulai menceritakkan tentang biaya. Sejak awal mendaftar ia hanya membawa bekal secukupnya. Itu pun dari uang yang seharusnya digunakan orangtuanya untuk membayar utang serta sedikit tambahan dari adiknya yang bekerja sebagai tukang jahit. Bahkan saat pelantikannya sebagai Bripda hampir saja tidak disaksikan oleh kedua orangtuanya.

“Saat pelantikan pun awalnya orangtua tidak bisa datang karena jauh dan terkendala biaya. Tapi sekali lagi Tuhan mempermudah jalan saya karena Kepala SPN dan Wakil Kepala SPN di sana memberi bantuan agar orangtua saya bisa hadir. Kalau untuk biaya selama pendaftaran dan pendidikan, itu dari uang yang sebenarnya mau digunakan untuk membayar utang lalu adik saya yang putus sekolah juga memberi tambahan,” tuturnya sambil menahan tangis.

Rumaniyah juga menceritakan bagaimana respons rekan-rekannya saat tahu ia masuk polisi tanpa biaya tambahan sepeser pun. “Rekan saya banyak yang tidak percaya kalau saya masuk menjadi polisi murni tanpa bantuan uang,” ucapnya.

Kini usaha kerasnya untuk masuk pendidikan polisi terbayar sudah setelah wanita asal Desa Trangkil Kulon, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, tersebut sah menjadi bagian dari Kepolisian Republik Indonesia. Rumaniyah resmi dilantik sebagai Bintara Polwan dengan pangkat Brigadir Dua (Bripda) pada 6 Maret 2018 lalu dan sekarang ditempatkan di Divisi TIK Mabes Polri.

Sementara Kliwon, ayah Rumaniyah tak henti-hentinya mengucap syukur atas lolosnya Nak keenanya dalam seleksi penerimaan bintara polisi 2017. Ia tak pernah mengira bahwa salah satu dari anaknya bisa mengemban amanah sebagai seorang anggota polisi. “Senang anak saya sudah jadi polwan karena saya tidak punya apa-apa. Saya tidak punya biaya apa pun, kerjanya cuma buruh tani dengan bayaran Rp 60 ribu per hari. Saya bersyukur dan berterima kasih,”

Asisten SDM Kapolri, Irjen Pol Arief Sulistyanto, mengatakan hal tersebut merupakan bukti nyata bahwa untuk menjadi anggota polisi tidak diperlukan biaya berlebih. Yang dibutuhkan oleh para calon bintara hanyalah kemampuan dan tekad mereka masing-masing calon.

“Contoh tadi Rumaniyah dan orangtuanya yang buruh tani sampai menangis di sini karena terharu. Ia menjadi Polwan dengan susah payah, tanpa biaya sedikitpun bahkan untuk berangkat ke Jakarta saja orangtua tidak bisa mengantar. Ini bukti kalau siapa pun bisa menjadi anggota Polri jika mempunyai kemampuan,” kata Arief.

Sedangkan Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono menegaskan bahwa tidak ada biaya untuk menjadi anggota polisi. Dengan begitu, ketika ada orang yang menawarkan atau bisa meloloskan orang untuk menjadi anggota polisi dengan membayarkan sejumlah uang agar segera dilaporkan ke pihaknya.

“Sudah ada arahan jelas dari Kapolri. Biaya jelas tidak ada. Makanya jangan ada rumor kalau masuk polisi bayar. Sekarang saya tantang siapa dan di mana yang masuk polisi membayarkan uang atau sogokan, akan kami tindak lanjuti,” pungkas Condro. (fen)