Kisah Para Nenek, Setia Tekuni Kerajinan Besek

Sardinah (80) warga Kedeng Sidialit sedang membuat besek. (foto: metrojateng.com/MJ-23)

JEPARA – Kerajinan besek masih dapat ditemui di tengah gempuran produksi impor dari bahan baku plastik. Menariknya, besek di sini diproduksi oleh kalangan wanita berusia di atas 60 tahun.

Di Desa Kendeng Sidialit Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, salah satu daerah yang masih menyisakan perajin besek. Dari belasan perajin yang masih memproduksi besek, semuanya adalah mereka yang sudah berusia di atas 60 tahun.

Sardinah, nenek berusia 80 tahun misalnya, masih mempertahankan usaha membuat besek yang sudah ditekuni sejak ia berusia 15 tahun. Meskipun jumlah produksi hanya berskala kecil dan dijual di pasar tradisional.

“Iya, masih membuat besek karena memang bisanya membuat besek. Dari umur 15 tahun saya sudah membuat. Dulu di sini (Kendeng Sidialit) banyak perajin besek, tapi sekarang mau habis,” kata Sardinah saat ditemui di rumahnya Desa Kendeng Sidialit RT 7 RW 2, Selasa (27/2).

Lantaran usia, Sardinah mengakui produksi beseknya hanya dilakukan berskala kecil. Selain kondisi tubuh yang renta, untuk mendapatkan bahan baku bambu dari pasar harus mengandalkan bantuan dari tetangga.

“Sebisanya, wong cari bambunya itu saya titip tetangga yang ke pasar. Namanya titip jumlahnya kan tidak banyak,” lanjutnya. Ia menceritakan, dalam membuat besek dibutuhkan bambu yang masih basah. Lalu dipecah sesuai ukuran, dan dipecah tipis-tipis, untuk kemudian dianyam.

“Karena saya sudah tua, sering tangan saya luka kena bambu. Sering juga kena pisau. Tapi ya masih bisa buat,” papar dia. Beseknya itu kemudian dititipkan tetangga untuk dijual ke pasar tradisional. Harganya Rp 20 ribu untuk 10 set besek.

“Harganya memang murah. Untungnya tidak banyak beda di saat saya masih muda dulu,” ungkapnya.

Kepala Desa Kendeng Sidialit, Kahono Wibowo menyampaikan bahwa saat ini perajin besek di desanya sudah mulai punah. Dari belasan perajin yang ada, semuanya berusia undur. Sejak beberapa tahun terakhir, perajin dari bahan baku bambu sudah beralih ke tusuk sate dan tali.

“Kalau tusuk sate banyak dan mulai berkembang, juga tali dari bambu yanh biasa digunakan untuk mengikat sayur. Kalai besek memang sudah jarang, dan dilakukan nenek-nenek,” tandasnya. (MJ-23)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

94 − 86 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.