Home > JATENG RAYA > Hal Gaib Dibalik Pecahan Rp 1.000 Terbitan 1964

Hal Gaib Dibalik Pecahan Rp 1.000 Terbitan 1964

SEMARANG – Teguh Gunawan sedang menata barang dagangannya ketika metrosemarang.com mendatangi lapaknya di kompleks Pasar Seni Padangsari, Kota Lama, Semarang, Rabu (13/9). Sebuah kotak berisi kepingan uang logam ia bersihkan sembari menyapa dengan ramah. Sembari menunjukan barang dagangannya, Teguh, sapaannya, mengaku bila berjualan uang kuno lebih menggiurkan ketimbang bisnis lainnya.

“Ini ada uang rupiah edisi khusus. Diterbitkan tahun 1964 tapi belum sempat beredar. Sebab hampir bersamaan meletus peristiwa berdarah Gerakan 30 September,” kata Teguh. Uang edisi khusus yang dimaksud Teguh itu berupa lembaran nominal Rp 1.000 berwarna merah. Pada gambarnya tertera wajah Presiden Pertama RI Ir Soekarno lengkap dengan nomor seri terbitan BI. Sedangkan bagian belakangnya terdapat gambar tujuh penari serimpi.

Sekilas tak ada yang janggal pada mata uang tersebut. Namun, bila dicermati muncul keanehan tersendiri. Teguh kemudian menunjukan tulisan Kun Fayakun yang tertera disamping lambang Garuda.

Keanehan lainnya muncul tatkala diletakan sejajar lurus pada telapak tangan. “Lihat, Mas. Uangnya tergulung sendiri. Mungkin ini alasannya kenapa uang seribu terbitan 1964 tidak jadi diedarkan,” ungkapnya sembari menunjukan gerakan aneh pada ujung lembaran uang kertas itu.

Banyak orang meyakini ada hal gaib yang ada di dalam uang kertas tersebut. Bila jatuh pada orang yang berniat jahat, ia mengatakan maka uang ini bisa disalahgunakan untuk hal-hal berbau supranatural.

“Uang ini sangat mistis dan mengandung unsur gaib. Paranormal sering mencari uang jenis ini, bahkan rela membeli sampai jutaan rupiah. Karena magis dalam uangnya dipercaya bisa mendatangkan pesugihan, ilmu santet maupun ilmu hitam lainnya,” ujar Teguh lagi.

Ia menenggarai bahwa kekuatan gaib yang muncul pada mata uang nominal Rp 1.000 karena kertasnya dibuat dari bahan khusus. Serat di lembaran kertasnya berbeda dengan uang kertas pada umumnya.

Diakuinya pula ia berhasil mendapatkan mata uang gaib dari seorang kolektor. Sayangnya, jumlah yang bisa ia kumpulkan hanya empat lembar. “Tujuh tahun lalu saya beli dari kolektor,” sergahnya.

Secara keseluruhan, dirinya juga menjual ragam uang kuno lainnya terbitan pemerintah kolonial Hindia-Belanda, Jepang, China hingga terbitan Indonesia saat zaman pergolakan kemerdekaan. Total ada ribuan jenis uang kuno mulai kepingan, kertas sampai penggol.

Mata uang terbitan paling lama tahun 1790 berupa uang logam Hindia-Belanda. “Saya jadi penjual uang kuno karena dulunya pegawai bank. Dari hobi jadi rezeki. Ternyata uang kuno melebihi harga dolar. Harta Bangsa Indonesia yang tak terduga dan tak ternilai sebenarnya dari uang kuno,” paparnya.

Ia pun mengimbau kepada masyarakat Semarang agar bergerak menyelamatkan lebih banyak lagi uang-uang kuno. Pasalnya, ia menganggap uang kuno yang kusam itulah yang paling berharga.

“Banyak mata uang peninggalan Jepang, Hindia-Belanda dan China yang nilainya sangat tinggi. Baik yang kepingan 1 sen sampai 1.000 Golden. Uang kuno merupakan harta karun yang membuat Indonesia jadi kaya raya,” tandasnya. (far)

Ini Menarik!

Menikmati Desa dari Bangunan Kolonial Hotel Garuda

Share this on WhatsApp   BERADA tak jauh dari Gunung Telomoyo, Hotel Garuda yang merupakan …

Silakan Berkomentar