Beranda JATENG RAYA METRO PANTURA Kirab Nyi Dapu, Warga Berebut Gunungan Hasil Bumi

Kirab Nyi Dapu, Warga Berebut Gunungan Hasil Bumi

25
0

KENDAL – Ratusan warga Kendal saling berebut gunungan hasil bumi dalam kirab budaya tradisi syawalan di Boja Kamis (21/6) sore. Ratusan warga rela saling dorong dan berebut gunungan, yang sebelumnya diarak keliling kota Boja.

Kirab budaya tradisi Syawalan di Boja, Kamis (21/6). Foto: edi prayitno

Gunungan menjadi rebutan warga yang sudah menunggu di depan komplek makam Sedapu dan berharap mendapat berkah dari gunungan tersebut. Kirab budaya  Nyi Pandansari atau Nyai Dapu ini sebagai bentuk penghormatan kepada Nyi Pandansari yang merupakan tokoh penyebar agama Islam di wilayah Boja Kendal.

Sebelum diperebutkan warga di depan komplek Makam Sedapu, gunungan hasil bumi dikirab keliling kota Boja. Iring-iringan kirab budaya selain gunungan hasil bumi yakni pasukan pengawal Nyi Pandansari atau Nyi Dapu. Ratusan warga sendiri menunggu kedatangan gunungan hasil bumi di depan komplek makam.

Namun belum sampai di depan komplek makam, warga sudah mulai berebut gunungan hasil bumi meski sudah dihalau panitia. Warga baik muda maupun tua saling dorong dan rela berdesakan untuk bisa mendapatkan hasil bumi yang diarak dalam tradisi syawalan dan merti Desa Boja.

Warga hanya ingin mendapatkan berkah dari gunungan hasil bumi yang menggambarkan kemakmuran dan kesejahteraan. Panitia sendiri kewalahan untuk mencegahwarga tidak berebut gunungan hasil bumi ini sebelum prosesi syawalan selesai. Namun warga yang sudah menunggu tidak sabar dan berebut sayuran serta buah-buahan yang ada di gunungan tersebut.

Menurut warga meski harus berdesakan dan saling berebut gunungan hasil bumi ini, namun warga senang jika bisa mendapatkan sayuran atau buah-buahan walau sedikit. “Sayuran yang didapat akan dijadikan sayur dan disantap bersama keluarga. Saya berharap dengan sayur dari gunungan ini kesejahteraan melimpah dan mendapat berkah banyak,” ujar Sutini warga Boja.

Sementara itu makna dari kirab gunungan hasil bumi ini sebagai bentuk semangat warga untuk saling bergotong royong. Kirab sendiri terdiri dari iring-iringan Nyai Pandansari yang menunggang kuda dan diikuti barisan pengawal berpakaian hitam dan putih serta prajurit perempuan.

Nyai Pandasari yang juga adik kandung Ki Ageng Pandanaran ini masih melekat di relung hati masyarakat Boja. Kirab menempuh jarak 5 kilometer ini membawa serta gunungan hasil bumi yang menggambarkan rasa syukur masyarakat boja yang sudah diberi rejeki oleh sang kuasa.

Kades Boja Slamet Riyadi mengatakan kirab ini sebagai bentuk tradisi tahunan masyarakat boja untuk menghormati leluhur penyebar agama islam di wilayah ini. “Selain itu juga sedekah bumi dengan mengarak gunungan hasil bumi,” katanya.

Sejumlah tokoh agama dan masyarakat Boja sendiri usai mengikuti kirab menggelar tahlil di makam Nyi Dapu. Tradisi syawalan di Boja ini merupakan agenda tahunan dan menjadi  wisata religi warga Kendal dan sekitarnya. (MJ-01)