Beranda JATENG RAYA Kekerasan Pada Wartawan, IWO Jateng Desak Pelaku Diproses Hukum

Kekerasan Pada Wartawan, IWO Jateng Desak Pelaku Diproses Hukum

5
0
BERBAGI
Ilustrasi


SEMARANG – Ikatan Wartawan Online (IWO) Jawa Tengah ingin pelaku pemukulan terhadap sejumlah wartawan di Banyumas saat sedang melaksanakan peliputan, Senin (9/10) malam kemarin diproses secara hukum. Tak hanya itu, IWO Jateng juga meminta kepada pihak kepolisian untuk memberi ganti rugi terhadap kerusakan peralatan milik para wartawan yang terdampak aksi kekerasan itu.

Ketua IWO Jateng, Mustholih mengatakan pihaknya juga mengutuk dengan keras tindakan represif aparat Kepolisian dan Satpol PP yang mengakibatkan adanya tindak kekerasan terhadap wartawan yang saat itu sedang melakukan tugas peliputan.“Kami juga ingin mengingatkan bahwa wartawan dalam melakukan tugas-tugas jurnalistik dilindungi dalam Undang-undang,” ujarnya, Selasa (10/10).


IWO Jateng juga menyerukan kepada seluruh wartawan di Jawa Tengah untuk melakukan aksi solidaritas. Menurutnya kekerasan sekecil apapun terhadap wartawan tidak bisa ditolerir. 

Atas kekerasan tersebut, PWI Banyumas juga mengeluarkan pernyataan sikap. Ketua PWI Banyumas, Sigit Oediarto lewat siaran persnya mendesak pelaku tindak kekerasan terhadap wartawan untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

PWI Banyumas juga mendesak Kapolres Banyumas dan Bupati Banyumas, agar bisa mengembalikan sejumlah barang yang hilang dan menganti kerusakan yang ditimbulkan.

Kekerasan terhadap lima wartawan Banyuas itu terjadi Senin (9/10) malam. Sejak pukul 10.00 WIB, Wartawan Banyumas yang terdiri dari berbagai media ( Televisi, Radio, Online dan Cetak), melakukan peliputan terhadap aksi dari Aliansi Selamatkan Slamet.
Aksi ini dimulai dari Kampus IAIN Purwokerto, hingga Alun-alun Purwokerto tepatnya di depan pintu gerbang Pendopo Sipanji atau Kantor Bupati Banyumas). Ratusan orang, dari berbagai elemen ini meminta agar Bupati Banyumas Achmad Husein untuk membuat surat rekomendasi, kepada Presiden RI Joko Widodo untuk menghentikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturaden.
Dengan alasan menyebabkan kerusakan lingkungan, yang pada akhirnya berdampak kepada warga terutama pada pemanfaatan air bersih yang bersumber dari hutan Gunung Slamet. Karena dalam beberapa waktu, air mengalami keruh sehinga tidak bisa digunakan.
Aliansi Selamatkan Slamet, tidak ada kata sepakat dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas, sehinga mereka bertahan di halaman Alun-alun Purwokerto, sebelah utara hingga Senin Malam.
Sekitar pukul 22.00 WIB, aparat Kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja melakukan upaya untuk membubarkan masa yang bertahan dengan mendirikan tenda.
Pada saat melakukan pembubaran masa ini, dari keterangan wartawan yang meliput pembubaran ( Agus Wahyudi dan Dian Aprilianingrum dari Suara Merdeka, M Wahyu Setiya Putra dari Radar Banyumas, Aulia El Hakim dari Satelit Pos dan Darbe Tyas dari Metro TV).
Polisi menghalang-halangi, kerja wartawan dengan meminta untuk tidak mendokumentasikan proses pembubaran masa yang berada di tenda. Selain itu Darbe Tyas, dipukuli oleh oknum polisi dan Satpol PP sehingga mengalami luka. Kamera milik Darbe Tyas juga dirampas oleh oknum tersebut.
Padahal mereka berada di lokasi berlangsungnya aksi adalah dalam rangka melaksanakan tugas jurnalistik. “Wartawan dalam melaksanakan tugasnya dilindungi oleh Undang-Undang 40 Tahun 1999 tentang Pers. (fen/red)