Home > JATENG RAYA > Jejak Sunan Kalijaga di Tanah Mrapen

Jejak Sunan Kalijaga di Tanah Mrapen

Warga mengunjungi titik api abadi Mrapen. (foto: metrojateng.com/ Efendi)

MRAPEN merupakan tempat wisata dengan pesona api abadi yang terletak di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Keberadaannya tak lepas dari sejarah perjalanan Sunan Kalijaga, setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-XV silam, yang kemudian dikuasai oleh Kerajaan Demak Bintoro.

Atas penguasaan itu, maka benda-benda sisa Kerajaan Majapahit dibawa ke Demak. Pengangkutan benda-benda kerajaan tersebut dipimpin oleh Sunan Kalijaga. Dalam perjalannan menuju Demak, rombongan tersebut merasa kelelahan. Sunan Kalijaga memutuskan untuk beristirahat di suatu tempat.

Di tempat tersebut, pengikut Sunan Kalijaga berusaha membuat masakan dari bekal bahan-bahan mentah yang mereka bawa. Namun mereka tak menemukan api dan air bersih, sebab tempat peristirahatan tersebut jauh dari pemukiman.

“Nah, waktu itu Sunan Kalijaga dibantu beberapa pengikutnya berdoa kepada Allah agar diberikan api dan air. Setelah berdoa Kanjeng Sunan berdiri dan menancapkan tongkat. Setelah dicabut keluarlah api yang menyembur dari dalam tanah. Itulah yang sampai saat ini disebut Mrapen,” ujar Juru Kunci Mrapen, Gunadi.

Setelah mencabut tongkat, Sunan Kalijaga berjalan ke arah timur. Mencapai sekitar 50 meter, ia kembali menancapkan tongkat itu. Kemudian tongkat dicabut kembali, lalu keluarlah air jenih dari dalam tanah yang kini disebut Sendang Dudo.

Pengunjung melakukan ritual di hadapan umpak yang konon ditinggalkan oleh pengikut Sunan Kalijaga. (foto: metrojateng.com/Efendi)

Sunan Kalijaga beserta pengikutnya bisa memasak, beristirahat, dan menyantap makanan hasil masakan memakai air dan api dari cabutan tongkat yang menancap. Setelah beberapa saat, perjalanan akan kembali dilanjutkan.

Namun, salah seorang pengikut merasa keberatan dengan barang bawaan berupa umpak atau landasan tiang. “Mengetahui itu, Kanjeng Sunan memerintahkan dia untuk meninggalkan umpak tersebut. Hingga kini batu tersebut dijuluki Batu Bobot karena berat,” tutur Gunadi.

Menjadi Petunjuk
Setelah sampai di Kerajaan Demak, Sunan Kalijaga memerintahkan salah seorang pengikutnya yakni Empu Supo, untuk membuatkan sebilah keris. Sunan meminta pembuatan keris bertempat area dimana tersedia api untuk membakar, batu sebagai landasan menempa, dan air untuk menyepuh (mencelupkan) keris setelah dipanaskan. Berangkatlah Empu Supo menuju tempat dimana terdapat ketiga elemen tersebut dengan jarak berdekatan.

Sampai juga Empu Supo di tempat yang pernah digunaan Sunan Kalijaga bersama pengkutnya beristirahat saat melakukan perjalanan dari Kerajaan Majapahit. Kemudian Empu Supo mulai membuat keris yang diberi nama Keris Kyai Sengkelat.

Dikisahkan Gunadi, dalam pembuatan keris itu Empu Supo tidak mengunakan palu untuk memukul logam hingga menjadi keris. Melainkan hanya ditekan-tekan mengunakan tangan. Untuk mendinginkannya, ia mencelupkan keris tersebut ke dalam Sendang Dudo.

Sendang Dudo yang airnya keruh dan bergelembung. (foto: metrojateng.com/Efendi)

“Itulah kenapa saat ini air di Sendang Dudo terlihat keruh dan bergelembung. Karena dulu digunakan Empu Supo untuk mencelupkan keris tersebut saat dalam kondisi panas sehingga terlihat seperti air mendidih,” ucap Gunadi.

Dudo sendiri berasal dari kata diduduk yang dalam Bahasa Indonesia berarti digali. “Kisahnya, zaman dulu laki-laki di sini nginang (mengunyah tembakau – red). Jadi pelafalan duduk menjadi dudo,” cerita Gunadi.

Menjadi Tempat Wisata
Pada zaman modern ini, Mrapen telah menjari tujuan wisata di Kabupaten Grobogan. Beberapa orang bahkan melakukan berbagai macam ritual di tempat itu. Ada yang percaya bahwa beberapa benda yang ada di Mrapen bisa mendatangkan berkah.

“Biasanya batu Bobot itu digunakan oleh orang yang sedang menghadapi beberapa pilihan dalam hal apapun. Untuk menentukannya, batu tersebut diangkat. Jika pada saat menggangggkat batu terasa enteng maka pilihan itu insyaallah benar. Namun jika terasa berat maka sebaliknya,” kata Gunadi.

Air yang ada di dalam Sendang Dudo dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit. “Namun itu kalau percaya saja. Kalau ragu sebaiknya jangan dilakukan. Karena airnya juga terlihat keruh. Yang memberi kehendak Yang di atas sana,” tukas Gunadi.

Sejak beberapa waktu lalu, tempat wisata ini dikelola oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah. Untuk memasuki kawasan wisata api abadi tersebut hanya dikenakan retribusi sebesar Rp 2.500. Di kawasan tersebut juga tersedia berbagai fasilitas seperi kamar mandi yang bersih. Yang pasti, ada musala bagi umat muslim yang akan menunaikkan salat. (Efendi)

Ini Menarik!

Menikmati Desa dari Bangunan Kolonial Hotel Garuda

Share this on WhatsApp   BERADA tak jauh dari Gunung Telomoyo, Hotel Garuda yang merupakan …

Silakan Berkomentar