Home > JATENG RAYA > Jalur Solo-Selo-Borobudur Rawan Longsor

Jalur Solo-Selo-Borobudur Rawan Longsor

ilustrasi
MAGELANG – Jalur Solo-Selo-Borobudur Jawa Tengah atau dikenal dengan Sesebo, dimusim penghujan ini merupakan jalur rawan , karena jalur tersebut sering dilanda longsor. Selama seminggu terakhir ini, jalur sesebo yang merupakan jalur wisata Ketep-Borobudur  sudah dilanda longsor sebanyak 3 kali. Longsor ini bahkan menutup akses jalan dari Magelang menuju Boyolali.

    Kepala pelaksana Badan Penanggulangan bencana Daerah (BPBD), kabupaten Magelang, Edi Susanto mengatakan, Jalur Sawangan- Boyolali atau Sesebo ini terdeteksi banyak sekali rekahan, sehingga rawan longsor. 

    Karenanya, pihaknya selalu menyiapkan alat berat bekerjasama dengan Dinas Bina marga Propinsi Jateng.

    Ia juga menyebutkan, jalur Sesebomendapat perhatian serius karena apabila longsor, pasti menimbulkan dampak sosial yang cukup tinggi.”Maka dengan tersedianya alat berat di kawasan tersebut, bila sewaktu-waktu  dilanda longsor kembali, maka bisa langsung dibersihkan sehingga segera tertangani,”katanya.

    Namun yang tidak kalah penting, imbuh Edi,  masyarakat sekitar harus selalu waspada dan memahami tanda-tanda akan terjadinya longsor.

    Edy menambahkan,  Wilayah Kabupaten Magelang Jateng , merupakan salah satu daerah rawan bencana alam. Dalam sebulan terakhir,  tercatat kurang lebih ada 68 kejadian bencana alam dan  mayoritas tanah longsor. “Khusus di bulan Januari kemarin, tercatat sudah ada 14 kali kejadian bencana alam,” katanya.

    Kejadian yang paling menonjol saat terjadinya pohon tumbang di obyek wisata Gunung kembar Payung di dusun Pujan, desa bawang kecamatan Tempuran. Dimana wisatawan domestik tewas tertimpa pohon pinus yang tumbang, masing-masing Titi Intansari (30) dan Vina Kurotulaini (18).

    Edy menambahkan, selama bulan Januari tercatat ada 68 kejadian bencana alam yang mayoritas tanah longsor. Kejadian bencana alam  terjadi  di delapan kecamatan antara lain Sawangan, Salaman, Pakis, Kaliangkrik dan Borobudur.

     Karenanya ia minta kepada masayrakat untuk meningkatkan kewaspadaannya. “masyaakat juga harus paham tanda-tanda akan terjadinya longsor,seperti adanya rekahan dan pergerakan tanah,” katanya.

    Melakukan pengecekanSelain itu juga vegetasi pohon yag terlalu rapat juga bisa menyebabkan tanah longsor. “Waspadai juga pohon yang memiliki akar serabut seperti bambu sangat rawan longsor atau tumbang,”jelasnya terhadap rekahan tanah dan pergerakan tanah. 

    Ditambahkan oleh Edi, bahwa berdasarkan prakiraan BMKG,  bulan Januari merupakan puncak hujan. 

    Februari intensitas hujanjuga masih tinggi, sedangkan di bulan Maret intensitas zhujan mulai turun tetapi masih dalam level tinggi. (MJ-24)

Ini Menarik!

Mengunjungi Jejak Sejarah Indonesia di Lawang Sewu

Share this on WhatsAppLawang Sewu dalam bahasa Indonesia berarti “Pintu Seribu”. Warga Semarang menyebutnya demikian …

Silakan Berkomentar