Home > JATENG RAYA > Jaga Kelestarian Sumber Air, Warga Selo Gelar Merti Tuk

Jaga Kelestarian Sumber Air, Warga Selo Gelar Merti Tuk

image
Warga Dukuh Kuncen, Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali melakukan ritual merti Tuk.

BOYOLALI – Warga Dukuh Kuncen, Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali menggelar ritual metri Tuk atau sumber air Selasa (17/11). Sebuah tradisi turun temurun, dengan tujuan untuk melestarikan sumber air yang ada di dukuh tersebut.

Tradisi diawali dengan melakukan pembersihan sumber air dari rumput-rumput liar. Kemudian, warga melakukan kenduri bersama di lokasi sumber air. Warga juga meletakkan satu sesaji di mata air tersebut. Selain itu, kenduri bersama juga dilaksanakan di rumah ketua RW setempat, Prapto.

Ritual metri Tuk dilakukan oleh warga di Dukuh Kuncen, Desa Samiran setiap tahun, bertepatan dengan tradisi Saparan disana. Kearifan lokal itu telah berlangsung turun-temurun sejak jaman nenek moyang, untuk menjaga kelestarian sumber air yang ada. “Sumber air ini tak pernah kering sepanjang tahun,” kata Widodo Ripto Hartono, salah satu tokoh pemuda setempat.

Dijelaskan dia, ada empat sumber air yang ada di tebing dasar jurang dibawah Dukuh Kuncen. Yaitu Tuk Tretes, Tuk Dadapan, Tuk Tampung dan Kali Tampah. Tradisi metri tuk dilakukan setiap tahun. Tujuannya untuk pelestarian mata air yang ada dan selama ini dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari.

Dikemukakan Widodo, para sesepuh dulu mengatakan, kalau nebang pohon disekitar sumber mata air itu ora ilok. Dari bahasa ora ilok itu, Widodo menanyakan kepada para sesepuh. “Ternyata tujuannya bagaimana pelestarian sumber air tetap terjaga. Ketika pepohonan yang ada sekitar sumber air ditebang seenaknya oleh masyarakat, maka debit air di Tuk akan berkurang,” kata Widodo yang juga ketua panitia kegiatan Metri Tuk.

Selain metri Tuk, warga bersama sejumlah kelompok tani juga menggelar Sambung Roso Metri Tuk dengan menghadirkan sejumlah nara sumber. Yaitu dari Pemerintah Desa Samiran, Balai Taman Nasional Gunung Merapi dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Boyolali. Temanya, jangan tinggalkan air mata, tinggalkan mata air bagi anak cucu kita.

Sementara itu Kaur Pemerintahan Desa Samiran, Kusnadar, meminta tradisi ini tak hanya sebatas metri Tuk saja. Tetapi juga diikuti dengan kegiatan pelestarian alam disekitar sumber air dengan melakukan penanaman pohon.

Dikemukakan, di kawasan gunung Merapi dan Merbabu dahulu kala pernah tumbuh pohon-pohon yang mampu menyimpan air. “Seperti pohon Tampung. Itu luar biasa, ditebang sudah satu bulan tidak kering, batangnya tida bisa dibakar itu,” jelas Kusnandar.

Selain pohon Tampung, juga pohon Pasang, Gesik, Pesek, Ladok dan pohon Sowo. “Pohon-pohon itu sekarang sudah hampir punah,” katanya. (MJ-07)

Ini Menarik!

Selama 2017 Ekspor Jateng Naik 11,21%

SEMARANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat nilai ekspor Jateng sepanjang 2017 dibandingkan …

Silakan Berkomentar