Home > JATENG RAYA > METRO SOLO > Jaga Kelestarian Hutan, Pabrik Pengolahan Kayu Gandeng Petani Lokal

Jaga Kelestarian Hutan, Pabrik Pengolahan Kayu Gandeng Petani Lokal

Penebangan perdana pohon sengon APRH di Dukuh Wonorejo, Desa Sukorejo, Kecamatan Musuk, Boyolali. Foto Metrojateng
Penebangan perdana pohon sengon APRH di Dukuh Wonorejo, Desa Sukorejo, Kecamatan Musuk, Boyolali. Foto Metrojateng

BOYOLALI – Asosiasi Pemilik Hutan rakyat (APHR) Desa Sukorejo, Kecamatan Musuk, Boyolali melakukan penebangan perdana pohon hasil kemitraan petani dengan industri pengolahan kayu Jumat (19/9). Kerjasama antara kelompok tani dengan UD Abiyoso itu dijalin sebagai bentuk simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan antara petani dan industri pengolahan kayu.

Direktur UD Abiyoso, Mintarjo, yang langsung hadir dalam acara itu mengatakan, pihaknya telah menjalin kemitraan dengan lima kelompok tani. Bentuk kerjasama tersebut yakni perusahaan kayu lapis miliknya memberikan bibit pohon kepada petani. Yang memelihara petani dan hasilnya nanti akan dibeli langsung oleh UB Abiyoso.

“Yang kami berikan yaitu bibit pohon yang bisa dipanen dalam jangka waktu 5-6 tahun, yaitu sengon dan jabon,” ujar Mintarjo.

Dikemukakan, untuk tahun ini pihaknya memberikan 750 ribu bibit pohon sengon dan jabon. Sedangkan pada tahun lalu, mencapai 600 ribu bibit. Mintarjo menjamin bahwa kayu yang dibeli langsung dari petani oleh pihak industri akan lebih layak, daripada jika dibeli oleh tengkulak. Karena harganya adalah harga pabrik. “Jadi ini kerjasama yang saling menguntungkan,” tandasnya.

Dijelaskannya, kerjasama yang juga disokong oleh Dinas Pertanian, Perhutanan, dan Perkebunan (Distanbunhut) Boyolali tersebut sebagai salah satu upaya menjaga keseimbangan jumlah pohon dengan permintaan industrial. Jumlah penebangan pohon dan permintaan industri harus selaras, tak boleh timpang di satu sisi.

Dengan sumber kayu dari hutan rakyat yang dikelola APHR, penebangan kayu bisa lebih mudah dikontrol. Selain itu, bentuk kerjasama ini mendorong penggunaan kayu legal dalam industri pengolahan kayu. Sebab kayu yang berasal dari hutan rakyat yang dikelola APHR mempunyai sertifikasi Sistem verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK). Sehingga keabsahan hukum kayu tersebut dijamin.

Sementara itu Kades Sukorejo, Erik Darmadi, menambahkan di Kecamatan Musuk saat ini terdapat 500-an hektar hutan rakyat yang bisa ditanami dengan bibit kayu untuk kebutuhan industri. Hutan rakyat dilakukan dengan cara tumpang sari dengan tanaman lain. (MJ-07)

Ini Menarik!

Ini Bocoran Menu Pesta Pernikahan Kahiyang

Share this on WhatsAppSEMARANG – Sebuah tempat persewaan alat pesta di Semarang bernama ADA mendapat …

Silakan Berkomentar