Home > JATENG RAYA > METRO SEMARANG > Ini Kronologi Polemik Pembangunan Salatiga Citywalk

Ini Kronologi Polemik Pembangunan Salatiga Citywalk

image

SALATIGA – Di atas lahan yang rencananya akan dibangun Salatiga Citywalk dulunya adalah sebuah hotel. Hotel ini bernama Bloomestein. Menurut penulis buku Salatiga : Sketsa Kota Lama, Eddy Supangkat, hotel ini merupakan penginapan pertama di Salatiga.

Eddy mengatakan, dia memiliki foto Hotel Blommestein yang diambil pada tahun 1911. Hotel yang menghadap ke arah Gunung Merbabu ini usianya lebih tua daripada gedung gementee atau kotapraja Salatiga, yang dibangun pada tahun 1917.

Setelah tidak lagi difungsikan sebagai hotel, bangunan ini berubah menjadi markas tentara dan kantor Komando Distrik Militer (Kodim) 0714 Salatiga hingga tahun 2009. Setelah kantor Kodim 0714 menempati lokasi baru, bangunan yang bersebelahan dengan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB ini dikembalikan ke Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga.

Tak berapa lama setelah kepindahan markas Kodim 0714, bangunan eks Hotel Blommestein dibongkar. Sebab, gedung tersebut telah berpindah tangan menjadi milik PT NV Yogyakarta, yang berkantor di Semarang. PT NV Yogyakarta pun telah meminta izin untuk pembangunan pusat perbelanjaan di bekas markas Kodim tersebut.

Wali Kota Salatiga saat itu, John Manuel Manoppo, menyetujui rencana itu dan memberikan perizinan untuk pembangunan mal. John mengatakan, bangunan tersebut sudah menjadi milik pihak swasta dan bukan aset militer, sehingga alih fungsi bangunan menjadi pusat perbelanjaan adalah hak pemilik.

Saat bangunan sedang dibongkar, ditemukan adanya terowongan peninggalan Belanda di bawah bangunan ini. Pembongkaran pun dihentikan dan tim Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng meninjau ke lokasi untuk melihat kondisi terowongan yang mengarah ke sebuah bunker rahasia. Tim BP3 Jateng segera menginventarisir daftar BCB di Salatiga dan pada akhir tahun 2009, BP3 Jateng menyatakan bahwa bangunan eks Hotel Blommestein adalah BCB kelas I. Artinya, bangunan tersebut tidak boleh dibongkar sama sekali.

Karena bangunan eks hotel tersebut sudah kadung dibongkar, maka pihak pemilik diminta untuk merekonstruksi kembali gedung tersebut.

Namun hingga empat tahun sejak polemik itu terjadi, PT NV Yogyakarta tak kunjung merekonstruksi bangunan tersebut. Bahkan baru-baru ini pihak pemilik memperbaiki seng di sekeliling bangunan dan memasang gambar brand yang akan mengisi gerai di mal.

Saat dikonfirmasi, Kepala Badan Pelayanan Perijinan Terpadu dan Penanaman Modal (BPPTPM) Kota Salatiga, Bustanul Arifin mengatakan, PT NV Yogyakarta sedang mengurus izin analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jateng untuk pembangunan mal tersebut. (ren)

Ini Menarik!

Belum Jelas Pindah, Pedagang Terminal Terboyo Pilih Tutup

  SEMARANG – Belum jelasnya penutupan Terminal Terboyo dan kepindahan bus Antar Kota Antar Provinsi …

Silakan Berkomentar