Beranda JATENG RAYA EKONOMI BISNIS INFOGRAFIK: Sri Ratu, Meredup Setelah 40 Tahun

INFOGRAFIK: Sri Ratu, Meredup Setelah 40 Tahun

447
0
BERBAGI

SEMARANG – Pasaraya Sri Ratu didirikan pada 1978 oleh sepasang salesman yang sudah berpengalaman dagang mengelilingi Pulau Jawa dan Bali,┬áTresno Santoso dan Tutik Santoso. Mereka melihat peluang penjualan barang impor, berdasar pengamatan pada rekan-rekan dan kolega yang gemar berbelanja kebutuhan fesyen dari Hongkong dan Jakarta.

Sri Ratu di Jalan Pemuda Semarang adalah toko yang pertama dibuka. Toko ini merupakan pelopor toko modern dengan konsep department store dan supermarket. Awalnya, toko ini adalah satu-satunya toko di Semarang yang menjual barang impor.

Toko ini memiliki pelanggan fanatik. Loyalitas pelanggan adalah andalan bagi toko ini. Sri Ratu memanjakan pelanggan dengan potongan harga, hadiah-hadiah, sarana hiburan dan desain interior toko yang moderen dan mewah. Sri Ratu kemudian mengembangkan bisnis hingga Jawa Timur.

Ia menyasar daerah yang belum dimasuki peritel nasional. Pada tahun 2004, Sri Ratu telah memiliki delapan toko yang tersebar di Semarang, Pekalongan, Purwokerto, Kediri, Madiun, dan Tegal.

Namun tantangan baru muncul. Pada saat omzet Sri Ratu sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi daerah, ia harus menghadapi peritel lain yang lebih kuat. Peritel nasional dan asing dengan modal besar, jaringan kuar dan sistem logistik yang bagus mulai memasuki daerah-daerah.

Pada 2008, bisnis Sri Ratu mulai meredup. Satu toko Sri Ratu di Pekalongan disewakan kepada Carrefour. Pada 2010, Sri Ratu Kediri dijadikan Kediri Mal. 2012, Sri Ratu Jalan MT Haryono Semarang tutup, gedung disewakan. Pasific Mal Tegal yang dikelola Sri Ratu Group disewa Hypermart, sementara saat itu Sri Ratu Departement Store tetap beroperasi.

Tahun 2014, Sri Ratu Purwokerto tutup. Tahun 2015, Transmart dan Hypermart menyewa gedung Kediri Mal, sementara saat itu Sri Ratu Departement Store tetap beroperasi. Pada 31 Januari 2018, Sri Ratu Departement Store Kediri menyusul Sri ratu Jalan MT Haryono Semarang, toko ini tutup.

Pada Desember 2017, Sri Ratu Jalan Pemuda Semarang memecat 286 karyawannya. Hal itu dengan pertimbangan efisiensi. Pengunjung sepi, omzet toko menurun,sedangkan biaya yang harus dikeluarkan tinggi.

Konsumsi listrik di Pasaraya Sri Ratu Pemuda Semarang mencapai Rp 1,2 Miliar per bulan. Sedangkan Gaji karyawan Pasaraya Sri Ratu Pemuda Semarang mencapai Rp 1 Miliar per bulan. Pasaraya Sri Ratu membutuhkan Rp 10 Miliar per bulan untuk operasional.

Namun pemutusan hubungan kerja ini menyisakan persoalan. Sebanyak 65 karyawan merasa pembayaran pesangon secara dicicil tidak adil. Sementara 221 karyawan lainnya menerima kesepakatan pembayaran pesangon dengan sistem cicil. Eks karyawan yang tidak menerima sistem cicilan pesangon, melakukan protes dan mengadu ke DPRD Semarang.

Mediasi Sri Ratu dengan eks karyawan diantaranya menghasilkan tenggat pembayaran pesangon, dan percepatan penyelesaian pemutusan hubungan kerja. (red)