Beranda INFOGRAFIK INFOGRAFIK: Jalan UNBK yang Tak Mulus-Mulus Saja

INFOGRAFIK: Jalan UNBK yang Tak Mulus-Mulus Saja

123
1
BERBAGI

 

SENIN, 13 Maret 2015 pukul 09.30. Ujian nasional dengan mata uji Bahasa Indonesia untuk sesi pertama di SMK Texmaco Semarang, selesai. Hari itu, ujian dilakukan dengan komputer. Itulah yang disebut-sebut dengan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

Candra Dwi keluar dari salah satu ruang ujian bersama kawan-kawannya. Sementara, kawan-kawan lain yang mendapat jatah waktu ujian pada sesi ke dua sudah siap di luar ruang.

“Lebih praktis. Biasanya butuh waktu lama untuk menghitamkan jawaban. Sekarang tinggal klik, lebih hemat waktu,” kata Candra. Waktu itu, sekolahnya menjadi satu-satunya sekolah di Kota Semarang yang melaksanakan UNBK.

Candra bilang, dirinya lebih santai mengerjakan ujian dengan komputer. Bisa melirik lembar kerja kawan di sebelahnya tanpa takut terjadi kecurangan, oleh sebab soal sudah diacak dalam puluhan variasi. Bahkan Candra bisa bergurau dengan pengawas ujian di sela mengerjakan soal ujian. Pengawas ujian saat itu berasal dari sekolahnya sendiri.

“Lebih enak,” katanya.

Baca Juga: UN CBT SMK Texmaco lancar

Sebelum sesi ke dua berlangsung, proktor di ruang ujian Candra lebih dulu mengunggah hasil pengerjaan naskah ujian ke server pusat yang ada di Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Saat itulah proses bekerja dalam jaringan (online). Setelah selesai, proktor kembali mengunduh token. Token akan diberikan kepada pengawas ruang. Pengawas ruanglah yang memberikan token kepada peserta.

Token berfungsi untuk membuka naskah soal yang telah tersinkronisasi. Pengerjaan naskah soal dilakukan secara offline. Penggunaan token harus bersamaan dengan username dan password yang dimiliki masing-masing siswa peserta ujian. Jadi, hanya siswa peserta ujian yang dapat membuka naskah soal, proktor pun tidak bisa.

Baca Juga: Cadangan soal ujian berbasis kertas untuk SMK Texmaco

Maka itu, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menyebut UNBK menjadi moda ujian nasional yang kredibel dan dapat diterima, dengan penilaian yang akuntabel. Mekanisme tersebutlah (semi online), sejak UNBK 2015 hingga 2018.

Melihat UNBK yang dilakukan di SMK Texmaco, pada tahun 2015 itu Ombudsman Jateng merekomendasikan perluasan UNBK. Sebab dipandang efektif, efisien dan meminimalkan kecurangan. Tentu saja dengan catatan perbaikan, seperti kondisi ruangan untuk kebutuhan jarak antar peserta.

Tahun 2015 itu, dari seluruh sekolah menengah atas di Kota Semarang, hanya SMK Texmaco yang memenuhi persyaratan penyelenggaraan UNBK. Hal itu berkaitan dengan jumlah komputer, ruangan dan sarana lain yang harus memadai.

Tahun itulah UNBK mulai dilakukan pada sejumlah sekolah rintisan. Sebelumnya, tahun 2014, UNBK dilaksanakan secara online secara terbatas di Sekolah Indonesia Singapura dan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur.

Tahun 2015 ada 556 sekolah rintisan di 29 provinsi dan Sekolah Indonesia Luar Negeri. UNBK tahun  2015 melibatkan 2.073 server sekolah sebagai server lokal dan diikuti oleh 170.578 siswa peserta.

Tahun 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan perluasan UNBK. Tahun itu ada 16.477 server sekolah yang terlibat, dengan 922.447 siswa perserta. Lonjakan terjadi pada tahun 2017. Jumlah peserta UNBK hampir mencapai empat kali lipat dari tahun sebelumnya. Lebih dari 3,5 juta siswa di Indonesia mengikuti ujian nasional menggunakan komputer.

Lonjakan itu terjadi karena kebijakan resources sharing yang dikeluarkan kementerian. Sekolah yang tidak memiliki sarana komputer memadai diperbolehkan melaksanakan UNBK di sekolah lain yang sarana komputernya memadai. Bisa pula melaksanakan UNBK pada perguruan tinggi yang memiliki sarana memadai.

Terpenting tempat yang digunakan untuk menggelar UNBK memenuhi persyaratan yang ditetapkan kementerian. Diantaranya memiliki komputer server yang menggunakan operating system (64 bit): Windows Server / Windows 8 / Windows 7 / Linux Ubuntu 14.04. Komputer server menggunakan hardisk minimal 250 GB dan RAM 8 GB. Juga harus dilengkapi UPS yang tahan setidaknya 15 menit.

Tempat pelaksanaan UNBK juga harus memiliki komputer klien dengan monitor minimal 11 inchi, hardisk minimal tersedia space kosong 10 GB, RAM minimal 512 MB. Jumlah komputer klien setidaknya memenuhi sepertiga jumlah total peserta ujian.

Resource sharing masih digunakan untuk UNBK tahun 2018 ini. BSNP menyebut moda ujian tahun ini diutamakan berbasis komputer. Targetnya adalah 100 persen untuk SMA sederajat dan 70 persen untuk SMP dan sederajat. Untuk ujian nasional pendidikan kesetaraan seluruhnya menggunakan sistem UNBK.

Target itu belum terpenuhi. Di Jawa Tengah misalnya, ada 1,26 persen SMA yang masih melaksanakan ujian dengan sistem UNKP (Ujian nasional Berbasis Kertas dan Pensil). Sebabnya, ada sekolah yang tidak memiliki komputer, jumlah komputer tidak sebanding jumlah siswa, dan jarak sekolah dengan sekolah lain yang sudah mampu menyelenggarakan UNBK terlalu jauh.

Di sisi lain, meskipun sudah ditentukan persyaratan bagi tempat penyelenggaraan UNBK, gangguan pada saat ujian berlangsung tetap saja terjadi. Persoalan yang sering terjadi adalah padamnya listrik pada saat ujian, serta gangguan pada komputer server.

Tahun 2017, UNBK pada 11 SMK di Kendal tertunda selama satu jam lantaran listrik mati. Tahun ini sejumlah sekolah di Jawa Tengah mengantisipasi padamnya listrik dengan menyediakan genset. PLN Jateng DIY menanggapi dengan memastikan tidak melakukan aktifitas pemeliharaan jaringan listrik selama UNBK.

PLN Rembang mengerahkan enam regu per hari untuk bersiaga dalam 24 jam. Lima buah trafo mobile disediakan di pos-pos jaga. Sementara PLN Solo memastikan menyiagakan tim patroli ke sekolah-sekolah. Masing-masing rayon terdiri 11 petugas.

Aliran listrik aman, namun masalah lain terjadi. Pada hari ke dua UNBK tingkat SMA sederajat (10/4/2018), sekurangnya 602 komputer server yang ada di 196 sekolah Jawa Tengah terganggu.

Baca Juga: UNBK Matematika, Ratusan Sekolah Terkendala Teknis

Akibatnya, siswa peserta ujian kesulitan mengunduh soal. Soal yang sudah bisa diunduh pun sebagian hilang. Ada pula yang sudah berhasil diunduh namun tidak dapat dibaca. Dampak lanjutannya adalah, siswa peserta harus ujian sampai pukul 21.30 dalam sesi tambahan. Di Magelang dan Wonosobo, 2.366 siswa dalam harus mengulang ujian matematika dalam jadwal ujian susulan pada 17 April 2018.

Ada beberapa kemungkinan yang diduga menjadi penyebab gangguan tersebut. Proses sinkronisasi yang bermasalah karena gangguan jaringan komputer server lokal, komputer server lokal memakai operating system lama, beban server terlalu berat, dan jalur komunikasi menuju server padat.

Ketua Panitia UNBK Balai Pengendalian Pendidikan Menengah dan Khusus Wilayah IV Provinsi Jawa Tengah, Prihestu Hartomo menjelaskan, gangguan UNBK SMA sederajat tahun ini pada hari ke dua murni karena sistem komputer. “Kemungkinan permasalahan tersebut bukan karena jaringan semata,” katanya pada 10 April 2018.

Ia mengimbau keapda seluruh siswa peserta ujian agar tidak cemas. Ia pun mengklaim gangguan itu tidak akan merugikan siswa. Oleh sebab sudah teratasi dengan penambahan sesi dan ujian ulang lewat jadwal susulan.

Pada masa rintisan UNBK tahun 2015, Rektor Universitas PGRI Semarang, Dr Muhdi mengkhawatirkan dampak gangguan yang terjadi pada siswa. “Seharusnya dilakukan uji coba terlebih dahulu. Jangan sampai ada masalah, karena dikhawatirkan mempengaruhi anak (siswa- red) sehingga menjadi drop. Sekolah yang melaksanakan UN dengan komputer harus benar-benar fit,” katanya waktu itu.

Tahun 2017, Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Demak, Syafii menyoroti pelaksanaan UNBK SMP dan sederajat di Demak. Menurutnya UNBK malah memberatkan sekolah, lantaran belum memiliki sarana memadai. Selain itu, tenaga ahli di bidang komputer juga belum tersedia. “Kalau UNBK sudah menjadi program, seharusnya pemerintah menyediakan sarana dan prasarana sesuai standar. Kalau tidak, sekolah terbebani,” katanya.

Persoalan-persoalan UNBK yang muncul  itu hanya sebagian kecil dari persoalan ujian nasional secara umum. Yang terjadi pada UNBK SMA sederajat di Jawa Tengah tahun ini pun hanya persoalan teknis.

10 April 2018 usai sesi pertama UNBK Matematika media sosial gaduh. Diisi celotehan siswa peserta ujian yang mengeluhkan susahnya mengerjakan soal matematika. Sebagian soal yang diujikan sama sekali melenceng dari kisi-kisi yang dipelajari siswa.

Kegaduhan yang dijawab oleh Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy dengan permohonan maaf dan penjelasan bahwa mulai tahun ini Kementerian Pendidikan memberlakukan soal yang membutuhkan daya nalar tingkat tinggi (high order skills/HOTS). Soal dengan standar HOTS yang disisipkan dalam soal UN tahun ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas UN.

Dalam peta perjalanan ujian nasional yang dipaparkan BSNP, tahun ini hasil UN diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Salah satunya, sebagai dasar peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Sementara, UNBK diharapkan dapat mendukung sistem penilaian pendidikan yang akuntabel.

Semoga harapan tersebut terpenuhi dengan tidak semata-mata menjadikan siswa sebagia obyek.

 

Oleh: tim metrojateng
Editor: Eka Handriana
Infografik: Ade Lukmono/Fitria Eka (olah data), Efendi (grafis)