Home > JATENG RAYA > EKONOMI BISNIS > Industri Kreatif Menggeliat, Bengkel Kayu Bekas Raup Untung Berlipat

Industri Kreatif Menggeliat, Bengkel Kayu Bekas Raup Untung Berlipat

Yuda saat menyelesaikan perabotan dari kayu bekas pesanan pengusaha di Semarang.

JIKA Anda melewati kampung kali tepatnya di Jalan DI Panjaitan, Semarang Tengah, pasti dengan mudah menemukan sebuah kampung dengan deretan kayu bekas di salah satu ruas jalan.

Tapi siapa sangka, di tangan seorang pemuda kreatif tumpukan kayu bekas bisa disulap jadi barang interior bernilai seni tinggi. Yuda Surya Wicaksana, seorang pengrajin bengkel kayu yang berada di jalan tersebut sejak lama menekuni pembuatan barang-barang interior yang belakangan ini digandrungi masyarakat Semarang.”Untuk hari ini saya mengerjakan pesanan kursi dan meja untuk restoran di kawasan Tembalang,” kata Yuda, sapaan akrabnya saat ditemui metrosemarang.com, di bengkel kayunya.

Sembari memoles kayu-kayu bekas memakai alat pembakaran, ia bilang usahanya sekarang sangat menjanjikan. Ini, kata Yuda buah kerja keras dari sang kakek yang diwariskan kepadanya sejak beberapa tahun terakhir.

Bila sang kakek zaman dahulu menekuni kerajinan dari tong bekas. Maka di tangannya usahanya dikembangkan dengan menciptakan kreasi lainnya. “Seperti kursi interior, satu set meja makan dan hiasan dinding untuk kafe-kafe dan resto banyak dibuat di sini,” katanya.

Prospek industri kreatif yang kian menjanjikan sedikit banyak membuat bisnisnya terus bergeliat. Tak hanya pengusaha lokal, dirinya kerap kebanjiran order dari pelanggan luar kota.

Yang terkini, bengkel kayunya mendapat pesanan 50 set perabotan sekaligus dari sebuah kafe di Semarang. “Paling laris order kursi interior dan hiasan dinding. Bahkan, tiga minggu lalu saya mengerjakan 80 set kursi dan meja,” terangnya. 

Ia biasanya memanfaatkan limbah bekas pabrik sebagai bahan bakunya. Itu merupakan buah simbiosis mutualisme yang cukup menguntungkan. 

Limbah kayu ia poles sedemikian rupa menggunakan pewarna khusus, lalu dibakar untuk membentuk pola-pola unik pada seratnya. Proses inilah yang ia akui jadi yang tersulit. Butuh ketelatenan luar biasa yang dipadukan dengan tenaga-tenaga terampil untuk menghasilkan produk yang bagus. Sehingga, harap maklum bila harga ikut terkerek naik.

Tahun ini pesanannya sangat ramai. Tiap bulan permintaan yang datang kian meningkat. Tak ayal, hal tersebut membuat penghasilannya melambung tinggi.

Orderan juga ada dalam produk perlengkapan dapur rumah tangga maupun restoran. Pesanan datang pula dari Sumatera, Yogyakarta dan Jakarta.

Ia mematok harga bervariasi sesuai permintaan yang datang. “Paling murah Rp 350 ribu, yang termahal Rp 15 juta,” akunya.

Ia berharap pada masa mendatang industri kreatif Semarang semakin maju agar mampu menciptakan ragam peluang usaha yang baru. (far)

Ini Menarik!

Pembangunan Proyek Vital Bandara Diprioritaskan

Share this on WhatsApp SEMARANG – Pengembangan Bandara Ahmad Yani Semarang khususnya pada proyek bangunan …

Silakan Berkomentar