Beranda JATENG RAYA EKONOMI BISNIS Industri Kemasan, Pertahanan Bisnis Cetak di Era Digital

Industri Kemasan, Pertahanan Bisnis Cetak di Era Digital

41
0
BERBAGI
pameran PPGI PRPP
Sejumlah pelaku usaha percetakan mengikuti pameran grafika PPGI Expo 2018 di PRPP Jawa Tengah Semarang, Kamis (22/3). (Foto: metrojateng.com/ Anggun Puspita)

 

SEMARANG – Kelesuan ekonomi berdampak buruk pada industri grafika atau percetakan dewasa ini. Apalagi ditambah adanya peralihan dari cetak offset ke digital. Maka itu, Persatuan Pengusaha Grafika Indonesia (PPGI) mendorong para pelaku usaha di bidang tersebut untuk lebih kreatif agar bisa tetap bertahan dan berproduksi.

Ketua DPP PPGI, Ahmad Mughira Nurhani mengatakan, industri grafika mengalami penurunan khususnya dalam bidang cetak offset. Kondisi itu seiring beralihnya majalah dan buku dalam versi cetak ke digital.

‘’Namun demikian, kami meminta pelaku usaha percetakan harus terus kreatif. Dan, saya lihat juga demikian. Sebab saat ini rata-rata mereka sudah investasi mesin digital atau masuk ke percetakan segmen lain, yaitu pengemasan,’’ ungkapnya di sela pembukaan PPGI Expo 2018 di PRPP Jawa Tengah Semarang, Kamis (22/3).

Menurut dia, pasar dari segmen pengemasan saat ini masih luas dan terus bertambah. Apalagi, sekarang industri makanan sudah mulai berkembang. ‘’Dulu bikin keripik aja cuma pakai kertas fotokopi, sekarang macam-macam keripik dikemas sangat menarik,’’ tuturnya.

Pameran dunia grafika akbar di Jawa Tengah tersebut diikuti oleh 30 perusahaan di bidang percetakan mulai digital printing, tekstil, printing sparepart, mesin printing hingga packaging.

Ketua DPD PPGI Jawa Tengah, Hocky Pauw mengatakan, meskipun kondisi perekonomian agak lesu, namun pihaknya optimistis tetap dapat bersaing dan bertahan di tengah kemajuan teknologi seperti sekarang.

‘’Kegiatan ini adalah momen penting dan menjadi titik temu antara vendors, pengusaha, dan pengguna jasa grafika. Ini membuktikan bahwa kita masih bisa bersaing dan bertahan di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA),’’ katanya.

Sementara itu, dunia grafika bisa makin tumbuh melejit karena dukungan sumber daya manusia yang handal.

‘’Secanggih teknologi kalau tidak didukung dengan sumber daya manusia yang handal maka sama saja. Industri lain tidak bisa hidup tanpa industri grafika, karena kertas, mesin cetak, dan tinta masih dibutuhkan untuk keberlangsungan industri tersebut,’’ kata Staf Ahli Bidang Kedaulatan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Whitono.

Meski sekarang ada gerakan paperless, lanjut dia, tapi grafika masih dibutuhkan. Apalagi, SDM yang mendukung industri tersebut yang dituntut mampu mengoperasikan secara mahir mesin cetak dan menjaga lingkungan. (ang)