Home JATENG RAYA METRO KEDU Hari Pers, Warga Protosaran Menilai Wartawan Jujur dan Sederhana

Hari Pers, Warga Protosaran Menilai Wartawan Jujur dan Sederhana

37
0
SHARE
Dua budayawan Magelang, ES Wibowo dan Budiyono memimpin kirab “Warta Wijaya” yang diadakan warga kampung Potrosaran, Potrobangsan Kota Magelang,untuk dipersembahkan kepada insan pers dalam rangka HPN 2018, Kamis (8/2). (foto: metrojateng.com/ch kurniawati)

 

MAGELANG – Warga Kampung Potrosaran, Kelurahan Potrobangsan, Kecamatan Magelang Utara melakukan kirab bertema Warta Wijaya, Kamis (8/2). Mereka berkeliling kampung, menyusuri kali kota buatan Belanda, sambil mengusung tandu. Tandu berisi alat-alat peliputan, kamera, telefon seluler, buku catatan dan bolpoin.

Warga mempersembahkan kirab Warta Wijaya tersebut untuk para wartawan dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2018. Kirab itu digagas oleh budayawan, ES Wibowo. Menurutnya keberadaan dan peran wartawan di tengah-tengah masyarakat sangat dibutuhkan.

“Wartawan telah ikut berperan menyelamatkan Indonesia dari tangan penjajah. Sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada wartawan, maka warga Potrosaran memberi kemuliaan kepada wartawan atas kejujuran dan  kesederhaannya,” kata Wibowo.

Dia juga menilai, wartawan mempunyai kemerdekaan yang banyak memberikan pengajaran terhadap warga masyarakat. Kirab yang mengusung tema “Warta Wijaya” ini memiliki arti kemenangan berita. Yakni kemenangan kemenangan wartawan bila bisa memberikan berita-berita yang obyektif, independen dan memberikan pembelaan kepada masyarakat.

Kirab juga diikuti budayawan Budiyono, dosen Untidar yang bertindak sebagai pemimpin. Warga bersama dengan masyarakat, mahasiswa, pelajar, santri memulai kirabnya dari padepokan Tidar milik ES Wibowo, kemudian menyusuri Kali Kota dan berakhir menuju panggung  “Benggung”. Di panggung ini, keduanya menjamas alat peliputan berupa buku catatan, perekam, dan kamera.

Kirab warta budaya ini, juga menampilkan berbagai kesenian darilintas agama, antara lain tarian dari daerah Papua dengan penari siswa-siswi Papua yang ada di Kota Magelang. Juga pencak silat dari ponpes Selamat dan karawitan dari mahasiswa Untidar Kota Magelang.

Yang menarik, pencak silat dari Ponpes Selamat diiringi gending Jawa yang dimainkan siswa-siswi dari SD Kanisius Pendowo. Mereka berkesenian secara bersama-sama tanpa sekat agama dan ras. Menurut Bowo, hal itu dilakukan untuk menanamkan kesadaran toleransi.

Kirab Warta Wijaya juga dihadiri Walikota Magelang Sigit Widyinindito. Mantan wartawan yang pernah menjadi anggota DPD RI, Bambang sadono juga hadir. Sigit berpesan pada insan pers di Kota Magelang untuk tidak meninggalkan masyarakat kampung. “Cita-cita pers harus tetap menggelora untuk terus mencerdaskan kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara,” katanya

Ia berharap agar wartawan juga rajin memberikan informasi pembangunan di Kota Magelang agar berguna bagi masyarakat. Dalam kesempatan ini, ia dihadiahi sebuah buku kumpulan puisi karya Bambang Sadono berjudul “Sumpah Setyaki”.  Setyaki merupakan sosok dalam tokoh pewayangan yang memiliki jiwa mengabdi pada rakyat, bangsa, dan negara.

Menurut Bambang, Setyaki adalah pejuang hebat yang berperang demi membela tanah airnya. Bukan demi wanita atau harta. “Saya harap pers juga demikian, memiliki semangat mengabdi dan membela masyarakat. Termasuk wali kota atau pemimpin lainnya yang memiliki semangat serupa Setyaki,” katanya.

Kepada insan pers, Bambang juga menghadiahkan satu buku berisi kumpulan tulisan-tulisannya yang berjudul “Senyum Simpul Bersama Bambang Sadono”. Hadiah diterima Wakil Ketua PWI Kota Magelang, Joko Suroso. (MJ-24)