Guru Ngaji Ini Gagal Umroh Gara-Gara Sabu

sabu solo
Dua tersangka pengedar sabu asal Solo ditangkap BNNP Jateng di Sragen. (foto: metrojateng.com/Efendi)

SEMARANG – Agung Rukiyanto (47) merupakan salah satu tersangka pengedar sabu yang diringkus petugas BNNP Jateng pada Jumat (6/4) lalu. Ia bahkan gagal melaksanakan umroh yang rencananya akan berangkat hari ini, Senin (9/4)  lantaran mengikuti proses hukum BNNP Jateng.

“Tersangka Agung ini juga merupakan oknum pengajar di salah satu pondok pesantren di daerah Surakarta,” ujar Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo saat gelar perkara di Kantor BNNP Jateng, Jalan Madukara, Senin (9/4) siang.

Agung memang sering mengisi tausyiah di Pondok Pesan Taqmirul Islam di Kota Surakarta. Ia menjadi pengisi tausyiah di pondok pesantren tersebut sejak 5 tahun lalu.

Tak hanya itu, agung ternyata juga pernah menjadi pemakai sabu pada sejak tahun 1998 lalu. Namun pada tahun 2002 ia berhenti mengonsumsi barang haram tersebut. “Tapi dia mulai memakai sabu lagi si Januari 2018 kemarin,” imbuh Tri Agus.

Baca Juga: Dua Pengedar Sabu Asal Solo Ditangkap di Sragen

Sementara dari pengakuan Agung, ia menjadi kurir bermula saat ia bersama dua orang rekan lamanya mengkonsumsi sabu. Saat itu kemudian ia dikenalkan dengan Bejo yang kini masih menjadi DPO petugas BNNP Jateng.

“Ya awalnya kan saya itu makai sabu, sama teman-teman ya kayak reuni gitu, terus dikenalin sama Bejo. Terus pas saya mau pesen lagi malah ditawarin gratis dan bahkan dibayar sama dia disuruh nganterin sabu,” kata Agung.

Agung menyetujinya dan mengambil paketan sabu di sebuah tempat di daerah Sragen. Ia mengambil paketan sabu tersebut bersama satu orang rekannya bernama Sriyono (53). Dalam pelaksanaannya, Agung dijanjikan upah oleh Bejo berupa uang senilai Rp 1 juta.

Setelah berhasil mengambil barang di Sragen, ia kemudian melakukan perjalanan menuju Surakarta. Namun sesampainya di Pertigaan Pungkruk, Jalan Raya Sukowati, Sragen, mereka disergap oleh petugas BNNP.

“Memang kami sudah ada laporan masuk, sehingga kami melakukan pengintaian dan berhasil meringkus keduannya di Pertigaan Pungkruk itu,” imbuh Agus.

Tri Agus juga mengatakan, penyebaran sabu kini sangat memprihatinkan. Pasalnya sabu bisa menyebar di berbagai kalangan masyarakat bahkan ia memungkinkan penyebarannya bisa saja ke pondok-pondok pesantren. Kedepan pihaknya akan melakukan berbagai macam upaya pencegahan pemyebaran sabu termasuk melakukan sosialisasi di pondok pesantren.

Kini Agung bersama rekannya Sriyono harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Agung dijerat dengan Pasal  114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) subsider Pasal 112 ayat (2) Jo Pqsal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara. (fen)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

+ 76 = 81

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.