Home > JATENG RAYA > Gugatan Ditolak Mahkamah Agung, Warga Ngamuk di Balai Desa

Gugatan Ditolak Mahkamah Agung, Warga Ngamuk di Balai Desa

warga Desa Wungurejo dan Tejorejo Kecamatan Ringinarum Kabupaten Kendal Rabu (08/02) sore mengamuk dan membanting meja serta kursi balai desa setempat.

 

KENDAL – Sejumlah warga Desa Wungurejo dan Tejorejo Kecamatan Ringinarum Kabupaten Kendal Rabu (08/02) sore mengamuk dan membanting meja serta kursi balai desa setempat. Warga tidak terima putusan kasasi terkait ganti rugi pembebasan jalan tol Batang-Ssemarang yang dinilai merugikan rakyat. Mahkamah Agung membatalkan permohonan warga yang meminta ganti rugi lebih tinggi dari penawaran.

Pertemuan warga ini  berjalan memanas sejak pertama digelar. Agenda pertemuan sebenarnya hanya sosialisasi putusan kasasi dari MA terkait gugatan warga kepada pelaksana pembebasan jalan tol Batang-Semarang.

Pembacaaan putusan kasasi dari MA disampaikan panitera Pengadilan Negeri Kendal. Warga kecewa dengan putusan kasasi ini membatalkan putusan PN Kendal terkait besarnya ganti rugi proyek jalan tol yang melintas di wilayah ini.

Pertemuan sempat memanas, warga meminta ada kejelasan terakit putusan kasasi tersebut. Panitera PN Kendal menyampaikan, bahwa terkait besarnya ganti rugi bukan menjadi kewenangannya. “Saya hanya membacakan putusan kasasi yang menolak permohonan gugatan warga dan membatalkan putusan PN Kendal itu saja,”  Jelas Soedi, panitera PN Kendal.

Suasana bertambah panas, warga yang kecewa dengan putusan tetap menolak hasil kasasi tersebut. Bahkan emosi warga semakin memuncak, saat pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kendal tidak bisa menjelaskan besaran ganti rugi yang akan diberikan kepada warga.

Sejumlah warga yang kesal kemudian membanting meja serta kursi sambil memaki petugas BPN Kendal. Petugas kepolisian yang siaga di pertemuan menggiring warga untuk membubarkan diri dan kembali ke rumah.

Salah satu warga mengatakan, tetap menolak hasil kasasi di MA karena  menilai ada ketidak laziman  bahwa hakim  memutus sepihak hanya  berdasarkan  warga tidak menggunakan apparaisal pembanding,  tanpa melihat  fakta fakta yang sudah terbukti di PN Kendal.

“Sekarang masalahnya adalah dengan harga Rp 220 ribu warga tidak bisa membeli lahan pengganti  karena harga pasarannya diatas Rp300 ribu. Kalau warga tidak bisa membeli lahan pengganti uang habis untuk biaya hidup terus  kalau jadi pengangguran siapa yang mau menanggung? Pemerintah? “ tegas Triyono Bisri, warga Wungurejo.

Ditambahkan, setelah  menang di PN Kendal harga di daerah lain semua naik, tidak ada yang sama dengan penawaran di Wungurejo, bahkan  desa lain jauh lebih baik. “Contohnya  tetangga desa yg bersampingan dengan tanah kita  yaitu desa Rowobranten harganya Rp 470 ribu permeter. Dimana rasa keadilan bagi kami? Mana Presiden dan gubernur kita pak jokowi dan pak ganjar yang katanya merakyat tapi membiarkan rakyatnya bergelimangan darah serta terkapar karena lapar,” imbuh Triyono.
Sementara itu Kepala BPN Kendal, Hery Faturahman mengatakan warga bisa melakukan upaya hukum lagi atas putusan tersebut. Didalam putusan PN Kendal appraisal  menilai tanah warga  Tejorejo dan Wungurejo  sebesar Rp 220 ribu.  Namun gugatan warga di PN kendal  dikabulkan dan naik menjadi Rp 350 ribu permeter.
Namun di tingkat Pengadilan Tinggi Semarang, dalam proses banding gugatan warga tidak dikabulkan sehingga harga kembali ke penawaran appraisal sebesar Rp 220 ribu. (MJ-01)

Ini Menarik!

Menikmati Desa dari Bangunan Kolonial Hotel Garuda

Share this on WhatsApp   BERADA tak jauh dari Gunung Telomoyo, Hotel Garuda yang merupakan …

Silakan Berkomentar