Beranda JATENG RAYA METRO SOLO Grebeg Syawal Keraton Solo Kembali ke ‘Zaman Old’

Grebeg Syawal Keraton Solo Kembali ke ‘Zaman Old’

39
0

SOLO – Pagelaran Grebeg Syawal Keraton Kasunanan Surakarta yang digelar usai Hari Raya Idul Fitri digelar berbeda. Jika biasanya pagelaran Grebeg ini dimulai dari kirab dari Sasono Sewoko Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta, namun di tahun ini kirab dimulai dari kawasan Pagelaran Keraton.

Dua gunungan Jaler dan Wadon di kirab dari Kawasan Pagelaran menuju ke Masjid Agung Solo. Foto: metrojateng.com

Dari pantauan di lokasi, tradisi Jawa tersebut masih memperlihatkan rebutan gunungan jaler dan wadon yang berisi hasil bumi ini masih menjadi tradisi bagi masyarakat Solo dan sekitarnya. Tradisi grebeg syawal ini digelar setiap tahunnya, sebagai puncak perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Grebeg Syawal biasanya dimulai dengan kirab dua gunungan dari Sasono Sewoko Keraton Kasunanan Surakarta menuju ke Masjid Agung Solo, namun tahun ini kirab dimulai dari kawasan Pagelaran Keraton menuju ke Masjid Agung Solo.

Putri Raja Pakoe Buwono (PB) XII, Gkr Koes Moertiah Pakoebuwono menjelaskan jika kirab yang dimulai dari Kawasan Pagelaran ini menjadi titik kembalinya pagelaran kirab pada zaman sebelum kemerdekaan lalu. Menurutnya, kirab ini tak menyalahi aturan lantaran Raja sebelumnya memulai kirab dari pagelaran bukan dari Sasono Sewoko.

“Dulu kirab Grebeg Syawal ini dimulai dari Raja Raja sebelumnya di Sasana Sewoko, kirab itu dimulai setelah zaman Kemerdekaan, nah aslinya itu kirab dimulai dari Pagelaran ini, dengan abdi dalem duduk di bawahnya,” ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan Grebeg Syawal di Siti Hinggil, kompleks Keraton Kasunanan Surakarta, Minggu (17/6).

Kegiatan kirab Grebeg Syawal ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan saat berkunjung ke Kota Solo. Kirab ini tak hanya menjadi tradisi akan tetapi menjadi jati diri Kota Solo sebagai salah satu kota yang konsen terhadap pelestarian budaya Jawa. (MJ-25)