Beranda JATENG RAYA METRO SEMARANG Fasilitas Tenda Kemah Jadi Daya Pikat Rest Area Bukit Gombel

Fasilitas Tenda Kemah Jadi Daya Pikat Rest Area Bukit Gombel

44
0
BERBAGI

SEMARANG – Menjelang hari terakhir Ramadan, cuaca Kota Semarang cukup terik. Arus mudik di sejumlah ruas jalan raya masih lengang. Di tanjakan Gombel, kendaraan pemudik terlihat berjalan melambat.

Tenda-tenda ini disiapkan sebagai rest area di tanjakan Gombel Semarang. Foto: fariz fardianto

Tak jarang ada pula yang ngos-ngosan sehingga memilih beristirahat di rest area yang dibangun di tepi tanjakan Gombel. Salah satunya yang menepi ke rest area tersebut ialah Sutikno.

“Saya menempuh perjalanan dari Jakarta dengan tujuan Malang. Sengaja mampir kemari karena pas badannya terasa capek. Ternyata di sini ada banyak tenda kemah yang dijadikan rest area,” ujar pria 39 tahun ini, sambil masuk ke dalam tenda.

Ia mengaku baru kali ini menikmati fasilitas unik di lokasi rest area. Sebab, di sepanjang jalan ia hanya sempat beristirahat di warung kaki lima maupun mampir di masjid.

“Biasanya ngasonya ke masjid atau mampir warung. Baru sekarang tahu ada rest area yang punya fasilitas tenda kemah. Bagus sih, bisa membantu pemudik yang kecapekan,” akunya.

Sutikno tahun ini tidak mudik sendirian. Ia mengajak seluruh anak dan istrinya mudik ke Kota Apel Malang. Sang anak yang bernama Handika Akbar Farozi, mengaku menikmati perjalanan mudiknya naik sepeda motor.

“Kita dari Kebon Jeruk Jakarta berkonvoi sekeluarga naik lima motor. Sudah dua tahun kita mudik naik motor. Kalau tahun kemarin terjebak macet. Kali ini, lancar-lancar aja,” tuturnya.

Mudik dengan berkendara motor jadi pilihannya lantaran dianggap menghemat biaya. Dengan naik motor, juga jadi alternatif ketika sulitnya mencari tiket kereta. “Lagian dengan begini, bisa nambah pengalaman, nambah teman, dapat suasana baru,” ujar Handika.

Pembuatan rest area dari tenda kemah diinisiasi oleh para pecinta alam dari berbagai lintas komunitas. Dodi Arianto, Koordinator Rest Area Camping di Bukit Gombel mengaku rest area tersebut dibangun sejak H-7 sampai H-1 Lebaran.

Ada 15 tenda yang dibangun berderet di tepi tanjakan Gombel. “Ini konsep yang dipilih untuk menyesuaikan basic kita sebagai anak gunung. Total ada 20 komunitas pecinta alam yang terlibat di sini mulai, Resopala, KPG, Jasapala, BPBD dan sejumlah Mapala lainnya,” ungkap pria yang akrab disapa Mbah Rimba tersebut.

Tim pecinta alam mengerahkan 50 personel untuk berjaga 24 jam nonstop. Para pemudik mampir karena kelelahan maupun ketika motor maupun mobilnya mogok.

“Walau tanjakan Gombel terkenal dengan tingkat kecelakaan yang tinggi, tapi nyatanya tiap hari ada 15 pemudik yang mampir kemari. Bahkan, ada 10 mobil yang kita evakuasi karena mogok di jalanan,” ujarnya dan ia menambahkan bahwa mayoritas pemudik yang mampir tujuannya ke jalur selatan Jawa macam Ngawi, Solo, Malang, Boyolali dan daerah lainnya.

Untuk melepas penat, pihaknya juga mengajak komunitas musik untuk menghibur pemudik yang bermalam. Satu keunggulan rest area yang berada di Gombel ini yaitu berada di dataran tinggi sehingga punya panorama alam yang indah saat malam hari.

“Kami punya delapan dome untuk menginap pemudik, layanan medis, lengkap dengan musala, toilet plus tandon untuk mandi, lahan parkir. Ditambah lagi kesiapsiagaan relawan resquer untuk memperbaiki mobil atau motor yang mogok. Semua layanan yang kita berikan gratis,” bebernya. (far)