Beranda JATENG RAYA METRO PANTURA Empat Tiang Masjid Agung Demak, Ini Filosofinya

Empat Tiang Masjid Agung Demak, Ini Filosofinya

156
0
BERBAGI

MASJID Agung Demak menjadi peninggalan penting bagi sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa. Selain dibangun oleh Walisongo, kontruksi bangunan Masjid Demak mengandung ajaran Islam.

Soko Guru yang tersimpan di dalam Museum setelah dilakukan pemugaran. Foto: metrojateng.com

Salah satunya adalah empat tiang penyangga masjid, yang terletak di dalam bangunan utama masjid. Keempat tiang atau yang disebut soko guru itu merupakan buah tangan dari empat wali. Yakni Tiang di barat laut merupakan karya Sunan Bonang, di barat daya karya Sunan Gunung Jati, di bagian tenggara karya Sunan Ampel, dan yang didirikan di timur laut karya Sunan Kalijaga.

Tiang tersebut diletakkan pada empat penjuru mata angin berukuran besar dengan tinggi 17 meter. Keberadaan soko guru tersebut memiliki filosofi empat pilar utama ajaran Islam.

Seorang pengurus Masjid Agung Demak, Suwagiyo menuturkan bahwa sebutan Soko Guru bagi empat tiang tersebut lantaran mengisyaratkan empat pilar utama dalam ajaran Islam. Yakni Alquran, Hadist, Ijma dan Qiyas.

“Orang Islam yang ingin mendapat keselamatan dunia dan akhirat harus berpegang teguh pada empat pilar tersebut. Begitu simbol Walisong yang tertuang dalam empat tiang atau Soko Guru tersebut,” ujarnya, Selasa (22/5).

Sedangkan tinggi tiang yang mencapai 17 meter juga memiliki arti bahwa tiap orang Islam berkewajiban menunaikan solat lima waktu, yang jika dijumlah semuanya menjadi 17 rekaat. Masing-masing subuh 2 rekaat, dhuhur 4 rekaat, ashar 4 rekaat, magrib 3 rekaat, dan isya 4 rekaat.

“Soko Guru itu memiliki simbol yang baik. Sehingga jika manusia ingin selamat dunia dan akhirat ikuti ajarannya itu, yakni memegang empat pilar utama dan menunaikan salat. Bukan memegang tiangnya,” paparnya.

Dipugar

Namun, keempat tiang asli peninggalan walisongo tersebut sudah pernah mengalami pemugaran pada 1984. Hal itu lantaran tiang tersebut terjadi kerapuhan di beberapa bagian.

Pemugaran dilakukan tidak pada semua bentuk tiang, namun hanya pada bagian yang rapuh. Yakni dipotong tujuh meter tiang karya Sunan Ampel, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga. Sedangkan karya Sunan Gunung Jati hanya dipotong satu meter.

“Pemotongan pada bagian bawah dan diganti dengan kayu yang baru. Untuk potongan yang asli untuk saat ini disimpan dalam Museum Masjid Agung,” lanjutnya.

Potongan empat tiang ditelakkan di dalam museum dengan posisi berdiri. Dilingkari dinding kaca, supaya pengunjung tidak dapat memegang secara langsung, karena dikhawatirkan dapat merusak benda bersejarah tersebut.

“Tiang terbuat dari kayu jati tapi belum ada kepastian dari daerah mana. Namun, diperkirakan saat itu di Demak juga sudah ada jati. Karena dulunya di sini juga hutan. Kemudian oleh Raden Patah didirkan pesantren, yang menjadi cikal bakal Masjid Agung Demak. Hampir semua kayu jenis jati,” tandasnya.(MJ-23)