Home > HEADLINE > Elpiji Melon Menghilang, Peternak Ayam di Magelang Beralih ke Kayu Bakar

Elpiji Melon Menghilang, Peternak Ayam di Magelang Beralih ke Kayu Bakar

Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram di Kabupaten Magelang mengakibatkan peternak ayam terpaksa kembali menggunakan kayu bakar. Foto Metrojateng/MJ-06
Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram di Kabupaten Magelang mengakibatkan peternak ayam terpaksa kembali menggunakan kayu bakar. Foto Metrojateng/MJ-06

MAGELANG – Penambahan kuota gas 3 kilogram oleh Pemkot Magelang untuk wilayahnya diduga dimainkan oleh sejumlah oknum tak bertanggung jawab. Sampai saat ini, masyarakat tetap saja sulit mendapatkan gas.

Kelangkaan elpiji bersubsidi ini juga mengakibatkan sejumlah peternak ayam di Kecamatan Kaliangkrik kelimpungan. Mereka terpaksa beralih menggunakan kayu bakar sebagai pemanas. “Daripada memaksakan pakai elpiji tapi harganya melambung, ya mau tidak mau kembali lagi ke kayu bakar,” tutur Majskur, salah seorang peternak di Kaliangkrik.

Menurut dia, penggunaan kayu bakar sebagai pemanas dikhawatirkan juga akan berpengaruh dengan hasil produksi. Apalagi, ketersediaan kayu juga semakin menipis. “Kami berharap pemerintah segera tanggap untuk mengatasi permasalahan ini. Kasihan masyarakat yang selama ini selalu nurut sama program-program pemerintah, termasuk untuk konversi minyak ke gas,” tandasnya.

Kelangkaan ini juga dialami oleh warga di Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang. Kurniawati (47) salah satu warga mengaku, hingga saat ini segenap warga setempat masih susah mencari gas elpiji.

“Aneh memang, karena pemerintah mengaku sudah menambah stok gas menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Tapi, kenapa di pasaran masih susah mencari gas. Kalaupun ada terbatas dan harganya mahal,” ungkapnya.

Para pengusaha kecil menengah juga mengaku mengalami hal serupa. Bahkan semakin parah. “Kami tidak tahu kenapa gas elpiji 3 kilogram susah dicari. Para pedagang dan pangkalah pun tidak bisa menjelaskannya. Ada yang bilang kirimannya kurang, ada juga yang bilang permintaan tinggi,” kata Ketua KUB Jaya Abadi Kota Magelang, Esti Widayati.

Dia kelangkaan gas melon sudah terjadi sejak sepuluh hari lalu. Akhir-akhir ini kelangkaan makin parah, sehingga memengaruhi aktivitas produksi 16 anggotanya yang merupakan pelaku UMKM.

Dia menuturkan, semua anggota memakai gas 3 kg untuk proses produksi. “Saya sendiri menggunakan gas tersebut untuk produksi aneka keripik sayuran dari paru daun singkong, terong, hingga daun seledri,” katanya.

Setiap hari biasanya dikirim 5-7 tabung untuk menyalakan 7 kompor dengan hasil 20 bal/hari. “Tapi, akhir-akhir ini hanya dikirim 3 tabung saja. Akibatnya, kami hanya bisa menyalakan 3 kompor saja,” katanya.

Toh, meski mendapat kiriman, katanya harga yang harus dibayar lebih mahal Rp 1.500/tabung menjadi Rp 18.500/tabung. Akibat kelangkaan ini, beberapa pesanan dari Temanggung terpaksa dibatalkan. (MJ-14)

 

 

Ini Menarik!

Penolak Vaksin Tak Pengaruhi Capaian Vaksinasi

    MAGELANG – Di Kabupaten Magelang masih ada sekelompok masyarakat yang menolak di imunisasi. …

Silakan Berkomentar