Home > KRIMINAL & HUKUM > Eks Kapolres Tegal Sebut Laporan BPKP Jateng Cacat Hukum

Eks Kapolres Tegal Sebut Laporan BPKP Jateng Cacat Hukum

image
Ilustrasi

SEMARANG — Sidang kedua Peninjauan Kembali (PK) atas pemohon Mantan Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Tegal, Agustinus Hardiyanto, dihelat di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Selasa (12/8/2014). Dalam memori PK-nya, Agustinus keberatan atas Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jawa Tengah.

“Keberatan atas dua hal. Mengenai jumlah kerugian negara di LHP dan oal kewenangan auditor,” kata Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Slawi, Wahyu Hidayat dan Albertus Roni, kepada wartawan.

Dijelaskannya, kerugian negara menurut Agustinus adalah Rp 256 juta. Bukan sebesar Rp 4,89 miliar, sesuai dakwaan Jaksa. Kemudian soal kewenangan, BPKP Jateng, dipaparkan Agustinus, tidak mempunyai wewenang melakukan audit. Seharusnya audit dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “Disebutkan bahwa LHP BPKP Jateng cacat hukum,” imbuhnya.

Agustinus mengajukan PK ke Mahkamah Agung (MA) setelah hukumannya ditambah setahun oleh Pengadilan Tinggi Semarang. Kasus yang menjeratnya korupsi dana operasi Polres Tegal tahun 2008 sebesar Rp 4,89 miliar. Sidang PK ini dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto.

Dalam sidang PK kali kedua tersebut, Jaksa melakukan tanggapan atas memori PK yang diajukan Agustinus. Inti tanggapan adalah Jaksa tetap sesuai tuntutannya dan putusan Majelis Hakim. Persidangan dilaksanakan cepat. Tanggapan Jaksa dengan tebal sembilan halaman tersebut dianggap dibacakan atau tidak dibacakan didalam sidang. Agenda sidang berikutnya yakni pendapat Majelis Hakim.

Sementara Agustinus tidak mau memberikan tanggapan kepada wartawan. Ia menolak berbicara ketika ditemui usai sidang. “Saya capek. Terimakasih,” ucap Agustinus seraya berjalan keluar ruangan sidang.

Hukuman yang dijatuhkan kepada Agustinus pada proses hukum tingkat pertama adalah tiga tahun penjara. Atas hal ini, Agustinus mengajukan upaya banding. Hasilnya, bukannya masa hukumannya turun malah naik.

Pengadilan Tinggi Semarang memperberat hukumannya menjadi empat tahun penjara. PT dalam putusan banding tidak tidak menambah denda Agustinus yang semula ditetapkan pengadilan tingkat pertama, yakni sebesar Rp 100 juta setara tiga bulan kurungan. Terdakwa juga dikenai pidana tambahan mengganti kerugian negara Rp 256 juta. Putusan PT tertanggal 17 April 2013. (MJ-09)

Ini Menarik!

Dugaan Pelaku Pembunuh Yoga Mulai Mengerucut

Share this on WhatsApp    KENDAL – Polisi masih mendalami kasus pembunuhan terhadap Yoga Gatot …

Silakan Berkomentar