Beranda KRIMINAL & HUKUM Eko Riyanto Edarkan Sabu dalam Kemasan Permen

Eko Riyanto Edarkan Sabu dalam Kemasan Permen

114
0
BERBAGI
Bungkus permen yang dijadikan tempat penyimpanan sabu untuk menyamarkan. (foto: metrojateng.com/Efendi)

SEMARANG – Eko Riyanto (30), warga asal Getasari RT 1 RW 2, Gladagsari, Ampel, Boyoali diamankan oleh petugas BNN Jateng bersama Direktorat Intelijen BNN setelah kedapatan menjadi pengedar sabu. Ia mengedarkan sabu dengan menggunakan kemasan permen yang diisi dengan paket sabu.

“Ini merupakan pengungkapan yang kesekian kali di tahun 2018 ini, namun ini termasuk modus baru dimana peketan 1 gram ini dimasukkan ke dalam kemasan permen, ini juga semakin tidak mencurigakan lagi,” ujar Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo saat gelar perkara di Kantornya, Jalan Madukara, Semarang, Selasa (6/2).Tri agus mengatakan, untuk peredarannya, Eko menyasar tempat wisata di pedesaan antara lain di Klero, Tingkir, Tengaran, Getasan, dan Bawen atau yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Semarang, Boyolali, dan Salatiga.

“Peredarannya di desa, di tempat wisata,” tegas Tri Agus.

Selain Jawa Tengah, Eko juga mengirim sabu ke Jakarta dan Halmahera melalui jasa ekspedisi Pos. Dari pengakuan Eko, ia dikendalikan seseorang penghuni Lapas Narkotika di Yogyakarta yang mengaku bernama Jiun lewat telepon seluler.

Eko juga mengaku sudah enam bulan lamanya menjalani profesi sebagai pengedarĀ sabu. Oleh Jiun ia diberi imbalan Rp 10 juta setiap berhasil mengedarkan 1 kilogram sabu. Tugas Eko ialah mengambil sabu sesuai dengan arahan Jiun kemudian mengemasnya dalam paketan kecil termasuk ke dalam bungkusan permen dan kemudian mengedarkannya.

“Di kasih Rp 10 juta sama Jiun setiap mengedarkan sabu, saya sudah enam bulan, itu yang mbungkus kecil-kecilĀ  permen juga saya. Saya kenal Jiun melalui teman,” ujar Eko.

Sementara itu, Kabid Brantas BNNP Jateng, AKBP Suprinarto mengatakan tersangka biasa mengedarkan sabu mulai sekitar pukul 04.00. Ia meletakkan paketan sabu ke dalam alamat yang telah diarahkan oleh Jiun. Kemudian konsumen akan dipandu melalui telepon ke alamat diletakkannya sabu.

“Jam 04.00 itu tersangka sudah mulai pasang alamat. Biasanya paket yang agak besar dileakkan di kuburan,” tukas Suprinarto.

Kini Eko harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ia dijerat dengan Pasal 114 Juncto Pasal 112 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentag Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati. (fen)