Beranda KRIMINAL & HUKUM Edarkan Gas Subsidi Seharga Non-subsidi, Pria Ini Raup Rp 15 Juta per...

Edarkan Gas Subsidi Seharga Non-subsidi, Pria Ini Raup Rp 15 Juta per Bulan

33
0
BERBAGI
Petugas Ditreskrimsus Polda Jateng bersama tersangka pemindah gas   subsidi ke dalam tabung non subsidi saat gelar perkara di Dit Reskrimsus Polda jateng, Banyumanik, Semarang, Senin (19/2). (foto: metrojateng.com/Efendi)

 

SEMARANG – Seorang Pria asal Jepara diringkus petugas Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Tengah. Pria berinisial ER itu kedapatan menjual gas bersubsidi dengan harga non-subsidi. Ia memindahkan isi gas dari tabung berukuran 3 kilogram ke dalam tabung berkapasitas 12 kilogram dan dijual dengan harga gas non subsidi.

“Jadi ER ini memindahkan isi gas bersubsidi ke dalam tabung non subsidi. Gas dari empat tabung 3 kilogram dipindah ke satu tabung 12 kilogram dan dijual dengan harga 12 kilogram non-subsidi,” kata Wakil Direktur Diterskrimsus Polda Jateng, AKBP Haryo Sugihhartono, Senin (19/2)

ER membeli gas 3 kilogram tersebut dari seorang pengepul di wilayah hukum Polda Jawa Timur, tepatnya di daerah Lamongan. Ia membeli dengan harga di atas harga eceran tertinggi (HET), Rp 18.500.

“HET gas saat ini Rp 16.500. Nah, tersangka ini berani membeli dengan harga lebih mahal karena isi dari gas tersebut nantinya akan dipindahkan ke dalam tabung non subsidi yang 12 kilogram, lalu dijual dengan harga Rp 135 ribu,” imbuh Haryo.

Barang bukti gas bersubsidi yang diamankan polisi. (foto: metrojateng.com/Efendi)

Dari pemeriksaan sementara diketahui bahwa tersangka sudah melakukan tindak penyelewengan tersebut sejak empat bulan lalu. Dibantu empat orang karyawannya, dalam sehari ia mampu menghasilkan sekitar 35 tabung 12 kilogram. Sedangkan dalam sebulan, ia diperkirakan mampu mendapatkan keuntungan sekitar Rp 15 juta. Gas tersebut beredar di pengecer-pengecer wilayah Jepara.

Atas perbuatannya, kini ER dijerat dengan Pasal 62 ayat 1 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara atau denda sebesar Rp 2 milyar. (fen)