Beranda PLESIRAN KULINER JATENG Dulu Dijajakan Keliling, Kini Lihatlah Wajah Mi Kopyok Pak Dhuwur Semarang

Dulu Dijajakan Keliling, Kini Lihatlah Wajah Mi Kopyok Pak Dhuwur Semarang

636
0
BERBAGI

 

 

TIDAK ada hasil yang menghianati proses. Begitulah ungkapan yang kiranya sesuai dengan kisah usaha kuliner mi kopyok Pak Dhuwur hingga saat ini. Berangkat sebagai pedagang keliling puluhan tahun lalu, Harso Dinomo menjajakan mi kopyok racikannya.

Harso berperawakan tinggi, dalam bahasa Jawa disebut dhuwur. Ia berkeliling dari pagi, kemudian mangkal di trotoar depan Kantor PLN yang dulu berada di Jalan Tanjung Semarang. Harso mangkal di sana sampai pukul dua siang, untuk melayani karyawan PLN pada istirahat siang. Harso akan kembali berkeliling sampai sore, sepulang karyawan PLN.

Karyawan PLN itulah yang semula menjuluki mi kopyok yang dijual Harso dengan nama mi kopyok Pak Dhuwur. Nama itu dipakai hingga kini. “Kalau ingat perjuangan kakak saya dulu ngeri,” ujar Paijo (66 tahun), adik Harso yang ditemui metrosemarang.com di kedainya di Jalan Tanjung.

Lama kelamaan usaha Pak Dhuwur berbuah manis. Pelanggannya yang kebanyakan karyawan PLN membuat Pak Dhuwur memutuskan untuk mendirikan tenda depan PLN Semarang. Namun, karena peraturan pemerintah yang tidak membolehkan pedagang kaki lima berjualan di trotoar, ia memutuskan untuk menyewa tempat di Jalan Tanjung, Semarang hingga saat ini.

Kedai mi kopyok Pak Dhuwur ramai dikunjungi pelanggan. (foto: metrojateng.com/Fitria Eka)

 

Tentunya usaha mi kopyok Pak Dhuwur tidak akan berkembang jika tidak diimbangi dengan kualitas rasa yang dapat memikat lidah. Menurut Paijo, resep yang digunakan tidak berbeda dengan mi kopyok pada umumnya. Hanya saja mi kopyok Pak Dhuwur lebih berani memainkan bumbu di saat mengolahnya.

Satu porsi mi kopyok Pak Dhuwur yang dihargai Rp 13.000 ini, berisikan mi, potongan lontong, tahu pong, potongan daun seledri, daun bawang dan kerupuk gendar yang sudah diremah. Ada yang spesial di kedai mi kopyok. Tak lain adalah sambalnya.

 

Satu porsi lengkap mi kopyok Pak Dhuwur yang siap menggoyang lidah. (foto: metrojateng.com/Fitria Eka)

Sambal mi kopyok Pak Dhuwur diuleg bersama kacang. Kedai ini juga menyediakan tambahan air bawang dalam botol, jika pelanggan ingin tendangan rasa bawang yang lebih. Perpaduan kuah bawang, dan sambal disertai gurih kacang, menjadikan mi kopyok Pak Dhuwur gurih.

Kesuksesan mi kopyok Pak Dhuwur membuat kita tersadar bahwa usaha apa pun jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tekun akan menghasilhan hasil yang nyata, bahkan tak disangka-sangka. Seperti mie kopyok Pak Dhuwur yang saat ini sudah dikenal seluruh Indonesia sebagai ciri khas kuliner Kota Semarang. (Fitria Eka)