Diobati Tepuk Bahu, Seorang Bidan Kehilangan Rp 50 Juta

SEMARANG – Seorang wanita lanjut usia yang berprofesi sebagai bidan diduga menjadi korban gendam. Korban bernama Suryanti (59), warga Jalan Gedongsongo Raya, Manyaran, Semarang Barat, kehilangan 60 gram emas serta uang. Total Rp 50 juta ludes dibawa kabur penggendam.

digendam
Tempat praktik Bidan Suryanti. (foto: metrojateng.com/Efendi)

Peristiwa tersebut bermula saat Suryanti melaksanakan olahraga pagi, Selasa (8/5) sekitar pukul 06.00. Ia berjalan di sekitar Jalan Gedongsongo Raya, Manyaran. Di tengah kegiatan berolahraga, tiba-tiba Suryanti didatangi oleh seorang lelaki yang turun dari mobil dan menawarkan pengobatan serta menepuk bahu korban.

“Kata ibuk setelah sadar, awalnya tadi ditemui sama laki-laki, katanya ada tiga orang pakai mobil warna hitam. Terus menawarkan pengobatan dan minta diantarkan ke rumah. Dan sepertinya ditepuk dulu,” ujar Amalia Chrisna Damayanti (26), salah seorang perawat yang bekerja di tempat Suryanti saat ditemui metrosemarang.com di tempat kerja di Jalan Tarupolo V, RT 7 RW 10, Kelurahan Gisikdrono, Semarang Barat, Selasa (8/5) sore.

Amel, sapaannya melanjutkan saat kejadian ia sama sekali tak mengira bahwa Suryanti sedang mengalami gangguan kesadaran. Amel  yang tinggal di tempat ia bekerja telah membuka pintu sejak pukul 05.30. Saat itu ia sedang berada di dalam tempat kerja seorang diri.

Sekitar pukul 06.00 datanglah Suryanti dengan seorang lelaki. Lelaki tersebut menuntun Suryanti dan menuju ke ruangan di lantai dua. Tanpa curiga, Amel  yang saat itu sedang bersih-bersih membiarkan kedua orang tersebut naik ke lantai dua.

“Ibuk itu paling nggak suka kalau dipegang lengannya sama orang yang nggak kenal, lha ini dia kelihatannya akrab banget, laki-laki itu megangin  makanya saya nggak curiga. Orangnya itu laki-laki pakaiannya rapi, badanya tinggi, makai kaus ada kerahnya sama makai ikat pinggang yang ada tempat handphonenya,” ujar Amel.

Tanpa rasa curiga, Amel melanjutkan kegiatannya yakni bersih-bersih tempat kerja. Amel  juga sempat berjalan keluar di samping tempat ia bekerja untuk membuang sampah. Saat itu ia  melihat seorang laki-laki berbaju hitam di ujung gang. Laki-laki tersebut tampak mencurigakan dengan pandangan yang terus tertuju di tempat Amel bekerja.

“Terus saya mbalik lagi, dan dua orang yang masuk tadi termasuk ibuk turun, dan ibuk sempat menanyakan anak laki-lakinya kok nggak tidur sini, dan saya jawab iya, dia tidak tidur sini, terus mereka pamit. Terus tak tanyain lagi, ‘ibu mau kemana?,’.  Bilangnya ibu mau pergi sebentar belanja. Dalam hati saya itu kan masih pagi, terus pakaian ibu kan juga biasa, saya pikir mau ke pasar,” kata Amel.

Selang benerapa jam setelah mereka pergi, tiba-tiba Suryanti kembali ke tempat prakteknya sebagai bidan. Ia mengatakan bahwa ia mengalami penipuan dan kehilangan semua perhiasannya. Sontak, Amel merasa kaget. Pasalnya ia tahu persis bagaimana muka dan perawakan pelaku. Amel sempat mengaggap bahwa pelaku merupakan salah seorang anggota keluarga Suryanti dilihat dari kedekatan mereka.

“Ya memang pas kejadian itu setiap kali saya tanya sama ibuk kalau mau njawab pasti liat orang laki-laki itu dulu, dan ibuk kan memang sakit stroke jadi ingatannya juga kadang agak berkurang ya saya kira karena itu jadi saya sama sekali tak menaruh curiga. Terus memang pas mereka mau pergi agak kelihatan terburu-buru sih,” kata Amel.

Saat kembali ke tempat praktek, kepada Amel, Suryanti bercerita bahwa ia sadar setelah ditepuk oleh pembantunya. Awalnya ia hanya diturunkan oleh para pelaku di pinggir jalan tempat semula ia diangkut dan dibekali dengan sebotol air mineral, sabun, serta uang senilai Rp 10 ribu.

Beberapa hari sebelum ini peristiwa terjadi, korban memang sempat ditanyai orang tak dikenal saat melaksanakan olahraga pagi. Korban juga sempat ditawari sebuah pengobatan. Namun, untuk penyembuhan penyakit, korban harus memiliki perhiasan emas murni.

“Ibu itu kan sakit stroke, waktu ketemu di jalan ditanyain  punya perhiasan emas murni apa tidak. Kalau punya mau didoain biar sembuh. Padahal tidak kenal, nanya juga boleh main kerumah gak. Terus ibu bilang sama anaknya, hati-hati kalau keluar. Ibu memang sempat berhenti olahraga pagi, sekitar empat hari berhenti dan baru ini mulai lagi,” pungkas Amel.

Akibat kejadian ini, perhiasan serta sejumlah uang milik korban yang ditafsir mencapai Rp 50 juta raib dibawa kompolotan penjahat tersebut. Kejadian ini juga telah dilaporkan ke Polrestabes Semarang kesorean harinya. Mendapat laporan Unit Inafis Polrestabes Semarang langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara. (fen)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

1 + 8 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.