Digoyang Kasus Plagiat, Rapat Senat Pilrek Unnes Diulang

SEMARANG – Tahapan rapat senat untuk menentukan pemenang bursa Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Negeri Semarang (Unnes) diulang. Hal ini menyusul mencuatnya kasus plagiat yang menyeret nama Faturrahman yang mencalonkan kembali sebagai rektor kampus konservasi tersebut.

Ketua Investigasi Dugaan Plagiasi Unnes, Profesor Mungin Edi Wibowo beralasan, rapat senat harus diulang lantaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menemukan ketidaksesuaian bukti-bukti kasus dugaan plagiat karya ilmiah milik Faturrahman.

“Karena menurut Kemenristekdikti ada ketidaksesuaian dalam beberapa bukti kasus tersebut, maka diputuskan bahwa rapat senat harus diulang,” kata Mungin, tatlala menemui wartawan di Lantai 4 Ruang H, Gedung Rektorat Unnes, Kampus Sekaran Gunungpati, Selasa (10/7).

Ia pun mengapresiasi keputusan itu sehingga proses Pilrek Unnes bisa dilakukan secara ketat. Terlebih lagi, ia mengklaim pengulangan rapat senat Pilrek Unnes juga disebabkan perwakilan Kemenristekdikti yang batal hadir saat penghitungan suara.

“Kita sudah mengagendakan rapat senat diulang lagi tanggal 31 Juli. Nantinya Faturrahman bersama kandidat rektor lainnya diminta lagi melakukan pemaparan visi-misinya. Itu enggak mempengaruhi jalannya Pemilihan Rektor tahun ini,” jelasnya.

Lebih jauh, ia mengatakan Faturrahman mencalonkan kembali sebagai rektor Unnes pada 18 Mei 2018 kemarin. Tim investigasi, kata Mungin kemudian menelusuri kasus dugaan plagiat dengan meminta keterangan kepada Anif Rida, mantan mahasiswi yang ikut terseret dalam pusara kasus tersebut

“Pak Faturrahman kemudian kita minta meneken tandatangan surat pernyataan bahwa tidak melakukan plagiat. Selanjutnya, Profesor Saratri di tanggal 7 Juni mengajukan bukti-bukti plagiasi karya ilmiah Faturrahman saat menghadiri undangan majelis profesor Unnes,” kilahnya.

Sehingga ia membantah bila ada tudingan terdapat 40 profesor yang jadi anggota majelis profesor telah menyidang Saratri. Hasil investigasi pun tidak menemukan sama sekali Faturrahman melakukan aksi plagiat.

“Kita punya dua bukti artikel. Yang isinya¬† sama persis 80 persen antara milik Anif Rida dengan Faturrahman. Tetapi, milik Faturrahman ini bisa dipertanggungjawabkan karena mencantumkan nama sumbernya dari hasil penelitian tahun 2002 silam. Faturrahman membuat karya itu ketika jadi peneliti muda dengan gelar doktorandus. Unnes membiayai penelitiannya seharga Rp 1,5 juta,” ungkapnya.

Walau demikian, hanya rentang waktu setahun kemudian Anif Rida juga membuat karya ilmiah nyaris mirip dengan milik Faturrahman tepatnya pada 2003 silam. “Nah dari situ kan ketahuan kalau FR (Faturrahman) tidak melakukan plagiasi. Jangan-jangan Rida sendiri yang memplagiat karyanya Faturrahman,” terangnya.

Langkah selanjutnya, tim investigasi melaporkan temuan itu kepada Dirjen Sumber Daya Iptek Kemenristekdikti, Ali Gufron dan Irjen Kemenristek pada 4 Juli. Dengan disaksikan perwakilan biro hukum dan Menristek M Nasir, Faturrahman justru menyebut jika semua tuduhan itu merupakan fitnah.

“Karena tidak terbukti adanya plagiasi yang dilakukan FR sebagai Rektor Unnes,”.

Pihaknya kini tengah menunggu keputusan selanjutnya untuk menyerang balik pihak-pihak yang telah menuduh Faturrahman melakukan plagiat. Salah satunya akan menyeret nama salah satu portal berita lokal yang telah membongkar kasus plagiat tersebut.

“Sedang kita tunggu waktu yang tepat untuk memproses mereka,” tutupnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

2 + 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.