Didemo Soal Uang Pangkal, Petinggi Unnes Tuding Ada Gerakan Luar Kampus

SEMARANG – Petinggi Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengkaji kemungkinan sanksi yang akan dijatuhkan bagi mahasiswanya yang ikut berdemonstrasi menuntut perubahan uang pangkal. Unjuk rasa uang pangkal berakhir ricuh Kamis (7/6) kemarin hingga membuat seorang pendemo pingsan.

uang pangkal unnes
Petinggi Unnes memberikan keterangan pers. (foto: metrojateng/Fariz Fardianto)

“Kami sedang menyelidiki keterlibatan pihak-pihak luar kampus dalam demonstrasi kemarin. Apalagi, ada beberapa mahasiswa kita yang terlibat, bagi mahasiswa akan dilakukan pembinaan, mereka akan dipanggil menghadap fakultas masing-masing, dibina, bila ditemukan pelanggaran kode etik akan diberi sanksi,” ungkap Ngabiyanto, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial Unnes tatkala ditemui wartawan di Lantai IV Rektorat Unnes Sekaran, Gunungpati, Jumat pagi (8/6).

Ia menduga unjuk rasa menuntut perubahan uang pangkal telah ditunggangi orang-orang pergerakan diluar kampusnya. Bahkan, ia menuding ada salah satu pendemo membawa massa cukup banyak dari Kota Gudeg Yogyakarta.

Eko Febriyanto, seorang Kasubag Humas, katanya juga dicekik oleh pendemo yang ricuh pada Kamis kemarin. “Kami belum berniat lapor polisi. Tapi polisi yang jaga kemarin pasti punya dalih sendiri apakah akan memasukan tindakan tersebut dalam ranah kriminal atau tidak,” cetusnya.

Ihwal insiden pendemo yang ditabrak mobil rektor, Staf Ahli Rektor Bidang Kemahasiswaan Unnes, Parmin berkilah kejadian itu tidak benar. Semula, menurutnya banyak pendemo yang bertindak agresif. Kemudian terjadi aksi saling dorong.

Terdapat salah satu pendemo yang nekat melompat kap mobil rektor. “Tapi itu mayoritas tidak pakai jaket Unnes sehingga mereka bukan mahasiswa kita. Sebenarnya tidak terjadi penabrakan terhadap pendemo,” tuturnya.

Ia beralasan pihak BEM sendiri sudah berulang kali ikut kajian uang pangkal. Tetapi, tanpa diduga ada desakan perubahan uang pangkal. Kisaran nilainya Rp 25 juta atau Rp 40 juta. “Kan sudah direspon. Cuma mereka tetap nolak. Jadi mereka berdemo sejak 4 Juni sampai ricuh kemarin,” bebernya.

Rektor Faturrahman diakuinya pula tak mau menemui pendemo. Alasannya karena melihat manajemen resiko terkait peristiwa tersebut. “Karena sesuai SOP, sebagian pendemo bukan mahasiswa Unnes. Oleh karena itu, rektor tidak mau menemui mereka,” katanya.

Sedangkan, informasi yang dihimpun metrojateng.com, aksi menolak uang pangkal semula dikoordinir seorang korlap dengan mengirim pesan kepada Rektor Unnes.

Mereka lalu menyebar ke beberapa titik pintu rektorat. Pukul 17.00 WIB, mobil rektor meluncur keluar. Tapi kericuhan muncul. Beberapa perempuan diseret satpam kampus. Seorang pendemo dilecehkan dan ditarik kerudungnya.

Ketika mobil berjalan, diinjak dan ditendang oleh satpam kampus. Mereka juga ada yang dibanting dan terpental menabrak dua motor. Akibatnya, seorang pendemo pingsan dan ditolong rekannya. Mobil rektor tetap melaju tanpa menggubris para pendemo. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

49 − 48 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.