Home > KRIMINAL & HUKUM > Dianggap Lalai Menjaga Pintu Perlintasan KA, Mustagfirin Terancam 5 Tahun Bui

Dianggap Lalai Menjaga Pintu Perlintasan KA, Mustagfirin Terancam 5 Tahun Bui

image

KENDAL – Penjaga  pintu perlintasan rel kereta api Desa Karanganom Kecamatan Weleri, Mustagfirin, yang menjadi terdakwa kasus kecelakaan KA Kaligung Mas dengan kereta mini didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) bukan dengan Undang-Undang Lalu Lintas.

Oleh karenanya, kuasa hukum terdakwa Afrizal keberatan dengan acuan dan dasar dalam pembuatan dakwaan. Dalam sidang perdana pembacaan dakwaan Selasa (9/9) siang, JPU menjerat dengan KUHP yakni pasal 350 tentang kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal dengan ancaman maksimal hukuman lima tahun penjara.

“Dakwaan  pasal jaksa penuntut umum (JPU) tidak tepat, sebab klien saya seharusnya dijerat dengan Undang-undang (UU) nomor 22 tahun 2009 tentang lalu-lintas dan angkutan umum bukan dengan  Pasal 359 KUHP,” tegas Afrizal usai sidang kepada sejumlah wartawan.

Dijelaskan Afrizal, ini masalah perlintasan kereta api (KA) dan lalu-lintas, seharusnya yang diterapkan adalah UU lex spesialis. Yakni, UU nomor 23 tahun 2007 tentang perkeretapian atau UU lalu lintas atau UU tentang lalu lintas, bukan hukum pidana.

Menurutnya, dalam UU Perekekeretapian, pihak KA hanya bertanggungjawab terhadap keselamatan penumpang saja bukan pada pelintas rel. Sedangkan keselamatan pengguna jalan adalah dari kereta api. “Jadi penjaga perlintasan hanya bertanggung jawab atas keselamatan dan kelancaran kereta api, bukan pengguna jalan yang akan melintas,” jelasnya.

Sementara Manager Humas PT KAI Daerah Operasional (Daop) IV, Suprapto menjelaskan jika palang pintu perlintasan hanyalah alat bantu untuk mengurangi terjadinya kecelakaan dan bukan  rambu-rambu utama.

“Rambu-rambu utama adalah rambu-rambu yang dipasang sebelum perlintasan. Yakni berupa tanda crossing double track dan rambu tanda stop,” tuturnya.

Sedianya, lanjut Suprapto, pelintas sebelum melintas harus melihat tanda rambu tersebut dan bukan hanya terpaku pada penjaga palang pintu saja. Penyebrang harus berhenti dulu dan tengok kanan kiri untuk memastikan keamaan saat melintas.

Menurut Suprapto, masyarakat kerap salah memahami antara rambu utama dengan rambu alat bantu. Padahal banyak JPL yang saat ini belum memiliki palang pintu. “Makanya masyarakat atau pengguna jalanlah yang harus bertanggung jawab terhadap keselamatannya sendiri. Yakni dengan mematuhi rambu-rambu lalu lintas,” paparnya.

Sementara dalam dakwaannya JPU, Amirudin dari Kejari Kendal mendakwa jika terdakwa Mustagfirin lalai. Yakni membuka palang pintu perlintasan Desa Karanganom Weleri yang mengakibatkan dua penumpang kereta mini meninggal setelah tertabrak kereta api yang melintas dari arah barat.

Awalnya Mustagifin pada 19 Maret lalu saat bertuga di pos palang pintu mendapatkan telepon jika akan ada kereta api gerbong pengangkut barang melintas dari timur. Kemudian ia menutup palang pintu setelah ada sinyal kereta melintas. Selang beberapa menit kemudian ia mendapatkan telepon jika ada kereta Kaligung Mas no loko CC 20330 dengan masinis Takuntoro dari barat melintas.

“Namun saat kereta gerbong melintas, terdakwa membuka palang pintu sehingga para pelintas jalan termasuk kereta mini melintas. Saat melintas, tiba-tiba palang pintu ditutup sebelum kereta mini sempat keluar perlintasan. Akibatnya kecelakaan tak terhindarkan dan dua orang korban meninggal,” katanya dihadapan majelis hakim yang diketuai Dian Erdianto dan hakim anggota Jeni Nugraha dan Kurniawan Wijoyonarko. (MJ-01)

Ini Menarik!

26 dan 27 November 2017 JNE Gratiskan Ongkir

Share this on WhatsApp SEMARANG – Hari Bebas Ongkos Kirim (Harbokir) kembali digelar JNE sebagai …

Silakan Berkomentar