Dari Era Soeharto hingga Jokowi, Kerupuk Rambak Kendal Kini Terbang ke Luar Negeri

KENDAL –  Kerupuk rambak khas Kendal dengan citarasa lebih gurih konon menjadi incaran petinggi negara. Dari era Presiden Soeharto hingga Joko Widodo. Bahkan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Muhammad juga menggemari kerupuk rambak yang diproduksi di Desa Penanggulan Pegandon Kendal.

Kerupuk rambak khas Desa Penanggulan, Pegandon, Kendal tembus sampai mancanegara. Foto: edi prayitno

Memasuki Desa Penanggulan Kecamatan Pegandon Kendal aroma khas kerupuk rambak berbahan dasar kulit kerbau ini mulai tercium hampir di setiap rumah. Desa ini merupakan sentra pembuatan kerupuk rambak yang sudah ada sejak dulu dan turun temurun dikembangkan.

Industri rumahan ini berproduksi kerupuk rambak hingga mencapai 2 kuintal kerupuk rambak setiap bulannya. Kerupuk rambak kulit kerbau dari sini memang berbeda dengan kerupuk serupa yang dibuat di daerah lain.

“Selain memiliki rasa yang lebih gurih dan renyah, kerupuk rambak ini paling banyak dicari pemudik yang hendak pulang ke kampung halamannya,” ujar Muhamad Munir, pembuat kerupuk rambak.

Warga kampung Jagalan Desa Penanggulan Pegandon Kendal ini mengaku, hingga kini ada 13 industri serupa yang juga saudaranya. Muhamad Munir sendiri generasi ketiga dari keluarga kerupuk Dwijaya.

“Pemasaran produk kerupuk rambak tidak hanya di pulau jawa namun sudah terjual hingga luar negeri. Melalui tenaga kerja asal Kendal kerupuk rambak dipopulerkan hingga Hongkong. Malaysia dan negara di asia lainnya,” imbuh Munir.

Proses pembuatan kerupuk rambak tergolong rumit karena butuh waktu lama. Pemilihan bahan baku berupa kulit kerbau yang berkualitas menjadikan kerupuk rambak ini lebih gurih dan renyah dibandingkan produksi dari daerah lain.

“Proses penggorengan juga melalui tiga tahap yang pertama menggoreng untuk melembekkan kulit, penggorengan kedua untuk memekarkan kulit dan terakhir agar rambak bisa mengembang sempurna,” jelasnya.

Salah satu penikmat kerupuk asal Semarang Dian Adi Putranto mengaku kerupuk rambak asal kendal ini lebih renyah dan gurih. “Jika dinikmati tidak membuat tenggorokan kering atau gatal karena bahan yang digunakan merupakan kulit kerbau pilihan,” katanya.

Presiden ke-6 RI SBY dan Ani Yudhoyono mencicipi kerupuk rambak khas Desa Penanggulan Pegandon saat berkunjung ke Kendal, April silam. Foto: metrojateng.com/dok

Kendala yang dihadapi pengusaha saat iniadalah mendapatkan bahan baku yang baik. Pasalnya selama ini bahan baku mengambil Kabupaten Demak, Jepara, Batang dan Semarang.Omzet dalam satu bulan pengusaha kerupuk rambak ini bisa mencapai Rp 15 juta sampai Rp 20 juta perbulan.

Untuk harga kerupuk rambak ini ukuran 250 gram dijual dengan harga Rp 40 ribu dan ukuran 500 gram dijual dengan harga Rp 80 ribu.

Kepala Desa Penanggulan, Ria Setianingsih mengatakan di desanya terdapat 13 perajin Kerupuk Rambak yang hingga saat ini masih eksis. “Saat ini kami sedang  mendorong memasarkan melalui online. Hal itu berdampak positif dengan banyaknya pesanan dari luar negeri seperti di Malaysia, Singapura dan Hongkong,” paparnya.

Ia manambahkan meski digemari oleh masyarakat, ia mengaku para perajin kerupuk rambak mengalami kesulitan menyetok bahan dasarnya. Bahkan para perajin hingga mencari stok hingga luar jawa.

“Yang menjadi khas itu kerupuk kerbau, sedangkan saat ini kerbau sangat sulit didapatkan.Bahkan para pengrajin hingga mengambil stok dari Minahasa,” pungkasnya. (MJ-01)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

37 + = 38

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.