Home > PLESIRAN > KULINER JATENG > Citarasa Akulturasi Budaya dalam Semangkuk Wedang Tahu

Citarasa Akulturasi Budaya dalam Semangkuk Wedang Tahu

wedang tahuku

Tahu… siapa tak mengenal makanan berbahan dasar kedelai ini. Tahu biasa diolah menjadi berbagai macam masakan yang cukup “nglawuhi”. Tahu biasa digoreng, direbus, dibikin bakso, dibuat sambal sampai dipepes. Namun,apa jadinya kalau tahu dibuat wedang? Nah lho…. Kebayang gak sih, tahu dibuat wedangan??? Inilah salah satu keunikan kuliner khas Jawa Tengah, tepatnya di ibukota provinsi yang terkenal dengan lumpianya, mana lagi kalau bukan Semarang.

Wedang Tahu adalah salah satu kuliner khas Kota Semarang yang keberadaannya hampir punah. Tergerus oleh minuman segar berembel-embel es, karena memang cuaca di Kota Lumpia ini cukup terik. Sebenarnya minuman ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Minuman yang dibuat dari kembang tahu ini memang bukan asli tanah air.

Wedang Tahu dibawa oleh para imigran asal Tiongkok pada akhir abad ke-19. Setelah dikenalkan sebagai sebagai salah satu minuman favorit saudagar dan para pedagang bangsa tersebut, orang-orang lokal memodifikasi bahan-bahannya dengan rempah dan resep tradisional khas nusantara.

Cita rasa akulturasi budaya melekat pada wedang tahu ini. Berbahan dasar kembang tahu dengan kuah rempah seperti jahe, kunyit, daun pandan,daun jeruk, garam, gula merah, cengkeh dan kayu manis ini memiliki manfaat yang berguna untuk menghangatkan tubuh. Sementara bahan dasar kedelai dalam kembang tahunya, bermanfaat sebagai antioksidan yang dipercaya menangkal radikal bebas.

Sebagaimana wedang lainnya, wedang tahu cocok dinikmati di musim hujan pada pagi ataupun sore hari sebagai minuman penghangat tubuh. Namun, jika ‘terpaksa’ dinikmati di siang yang terik pun, wedang tahu tak kalah nikmatnya.

Penjual wedang tahu biasanya menjajakan dagangannya dengan pikulan dan untuk menarik perhatian calon pembeli, mereka membunyikan mangkuknya beradu dengan sendok bebek, atau piranti musik teng-teng berukuran mini dengan pemukul dari kayu.

So, bagi Anda yang berkunjung ke Kota Semarang, jangan lupa mencicipi kuliner khas ini. Anda bisa mendapatkannya di sekitar Jalan Mataram, Gajahmada, lampu merah gerbang UNDIP (Universitas Diponogoro) , dan Jalan Setiabudi. (eva)

 

Ini Menarik!

Dondurma, Es Krim Atraksi dari Turki

Share this on WhatsApp    “AYO ambil, ayo ambil!” teriakan seorang pria dari tenda es …

Silakan Berkomentar