Beranda INOVASI Ciptakan Pewarna Solar Cell dari Daun, Siswa Taruna Nusantara Raih Emas di...

Ciptakan Pewarna Solar Cell dari Daun, Siswa Taruna Nusantara Raih Emas di Serbia

42
0
BERBAGI

MAGELANG – Siswa SMA Taruna Nusantara (TN) Magelang Muhammad Firman Nurudin, berhasil mengukir prestasi internasional. Pelajar kelas XII tersebut sukses meraih  medali emas di ajang International Conference of Young Scientists (ICYS) 2018, kategori Environmental Science, di Belgrade, Serbia, 19-25 April 2018.

Firman bersama Wakil Kepala Sekolah Kesiswaan dan Asrama SMA Taruna Nusantara, Kuncoro Puji Raharjo. Foto: ch kurniawati

Prestasi membanggakan itu diperoleh dari hasil meneliti limbah daun jati, rambutan dan filisium, yang dijadikan sumber pewarna dalam teknologi tenaga surya (solar cell).

“Alhamdullilah, saya berhasil menang dalam ICYS 2018 menyisihkan 435 peserta dari 35 negara di dunia,” kata Firman kepada metrojateng.com, Rabu (2/5).

Ia memilih meneliti beberapa daun untuk dijadikan bahan pewarna, karena terinspirasi dari banyaknya limbah daun yang tidak termanfaatkan. “Ketiga daun ini memiliki warna khas dan saya mencoba apakah limbah ini bisa dijadikan pewarnaan tenaga surya generasi ketiga. Ternyata bisa,” kata Firman.

Butuh waktu satu tahun untuk melakukan penelitian ini. Remaja kelahiran 22 Juli 2001 ini, dibimbing oleh seorang guru dan Kelompok Penelitian Cell Surya LIPI melakukan penelitian tersebut.

Firman mengatakan, dalam daun jati, rambutan dan filisum terdapat pigmen yang bisa menggantikan rutenium yang selama ini dipakai untuk pewarna tenaga surya. “Pigmen alami yang terdapat dalam daun itu adalah  antosianin dan karotenoid yang bisa dipakai untuk pewarna tenaga surya, pengganti rutenium. Rutenium adalah senyawa kimia komplek hasil tambang yang tidak ada di Indonesia. Selama ini kita impor dan harganya mahal,” urainya.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengatakan, pewarna pada tenaga surya berfungsi untuk menyerap sinar matahari yang kemudian diubah menjadi energi listrik. Di Indonesia, kebanyakan masih memakai tenaga surya generasi ke-1 dan ke-2 dengan sumber monokristalin yang sulit dikembangkan.

Dalam melakukan penelitian, Firman mengaku ada kendala, yakni pada awalnya ia memakai daun sebagai sumber eneregi tenaga surya. Setelah diajukan ke LIPI dan diterima, tapi tidak bisa dikembangkan karena belum ada teknologinya. “Akhirnya diturunkan gradenya, menggunakan pigmennya daun saja, tapi malah menang,” ungkapnya.

Siswa Berprestasi

Boleh dibilang Firman memiliki prestasi akademik sejak masih duduk di sekolah dasar. Berlanjut saat ia duduk di bangku SMPN 2 Kota Magelang. Berbagai prestasi terus diraih remaja berperawakan kecil ini. Karena kepintarannya, ia masuk ke SMA TN dengan mendapat beasiswa dari BUMN Pelindo dan Ikatan Alumni SMA TN.

Pelajar penggemar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ini sejak dulu suka sekali melakukan riset, dan selalu berujung pada penghargaan. Antara lain meraih medali perunggu pada Asia Pasific Conference of Young Scientists tahun 2017 di Nepal, medali emas pada Festival Kewirausahaan tahun 2016 di Bandung, juara Lomba Penelitian Belia tahun 2017 dan sebagainya.

Ia memang bercita-cita  ingin terus mengembangkan kemampuan di bidang riset. Cita-cita yang ingin diraihnya adalah menjadi ilmuan di bidang environmental Science dan oceanografi.

Putra pasangan Nur Salim (44) dan Nurul Hidayah (43) itu ingin selalu membahagiakan orang tua. Ia menyadari, ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan yang tidak setiap saat mendapatkan pekerjaan.

“Tapi ayah dan ibu saya sangat ‘melek’ pendidikan, sehingga beliau berdua rela banting tulang untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Ibu saya juga rela menjadi TKW di Singapura sejak saya masih duduk di bangku kelas 1 SD. Saya tidak akan menyia-nyiakan perjuangan orang tua. Saya akan membahagiakan mereka dunia akhirat, mengangkat derajat orang tua dan memajukan Indonesia lebih baik,” kata Firman.

Ia juga bersyukur karena sudah diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui beasiswa bidikmisi.

Wakil Kepala Sekolah Kesiswaan dan Asrama SMA Taruna Nusantara, Kuncoro Puji Raharjo, mengatakan prestasi Firman merupakan hasil kerja kerasnya selama setahun belakangan ini.

Menurut Kuncoro, hampir separuh hidup Firman ada di laboratorium ataua bengkel kerja SMA Taruna Nusantara. Firman memang memiliki bakat dan minat yang sangat tinggi dalam bidang penelitian.

Terhadap kelebihan Firman ini, pihak sekolah sangat memperhatikan dan selalu mencari jalan bagaimana menyelaraskan antara kreativitas dan tetap mematuhi peraturan disiplin yang diterapkan di SMA Taruna Nusantara.

Kepala SMA Taruna Nusantara, Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Soebagio, S.IP mengaku bangga atas kemenangan siswa Firman. Soebagio mengaku selalu percaya tidak ada paradoks antara disiplin dan kreativitas.

“Justru kreativitas akan bisa berkembang dengan baik jika siswa memiliki disiplin dan tanggungjawab yang tinggi. SMA Taruna Nusantara sudah 28 tahun membuktikannya dengan menghasilkan banyak siswa dan alumni yang berprestasi meskipun disiplin dan aturan-aturan yang ada sangat ketat,” tutur Soebagio. (MJ-24)