Cerita Tukang Potong Rambut Kelas ‘DPR’ Langganan Pensiunan Tentara dan Polisi

    54
    0

    SUASANA Pasar Peterongan Semarang cukup ramai pada Jumat siang (22/6). Di tengah hiruk pikuk para pedagang, Munawir terlihat tenang di depan cermin. Saat ditemui di tepi trotoar Jalan Peterongan, jemari tangannya cekatan menggunakan gunting dan sebuah sisir untuk memangkas helai demi helai rambut pelanggannya.

    Munawir jadi alternatif pangkas rambut dengan harga ekonomis. Foto: fariz fardianto

    “Ini itungannya lagi sepi. Biasanya kalau pas ramai saya bisa nyukur rambut lima sampai enam orang,” aku pria berusia 54 tahun tersebut.

    Ia bilang udara semilir nan adem di bawah teduhnya pohon membuat para pelanggannya nyaman mangkal di trotoar. Lantaran sudah 24 tahun mangkal di situ, orang-orang mengenal Munawir sebagai tukang cukur kelas ‘DPR’.

    “DPR alias Di bawah Pohon Rindang. Walau jelek-jelek begini, pelanggan saya banyak. Yang datang dari pensiunan polisi dan tentara. Mereka kerap mampir kemari. Sebab, suasananya adem,” kata bapak dua anak tersebut.

    Pelanggan dari pensiunan polisi dan tentara itu kerap memintanya mengepras rambut dengan gaya cepak. Namun tak sedikit pula yang meminta potong bros tipis. “Meski purna tugas, mereka tetap ingin terlihat gagah seperti saat aktif dulu,” imbuhnya.

    Mangkal di tepi trotoar punya keuntungan tersendiri. Selain tak perlu modal besar. Peralatan yang dibutuhkan pun sangat sederhana.

    Munawir yang membuka jasa pangkas rambut pukul 10.00 WIB sampai pukul 15.15 WIB sore itu, saban hari cukup mengantongi sebuah gunting, sisir rambut, sepotong mata silet kecil serta selembar handuk.

    “Kalau kacanya saya pasang di tembok rumah warga biar awet. Kursinya saya ikat rantai biar enggak gampang hilang,” katanya sembari tersenyum lebar.

    Ia mengungkapkan kemampuannya memangkas rambut bermula saat masih bujang. Ketika masih serumah dengan orangtuanya di Demak, ia menyerap ilmu memangkas rambut dari adiknya.

    Sang adik dengan telaten mengajarinya memangkas rambut dengan ragam model. Potongan cepak, bros sampai potongan paris alias pinggir tipis-tipis ia pelajari dengan serius.

    “Diajari adik saya. Terus saya praktekin. Kemudian coba-coba buka potong rambut. Karena hasilnya lumayan. Pekerjaan saya sebagai penjual mangga keliling akhirnya saya tinggalkan. Sejak zamannya Pak Harto sampai sekarang, jadilah tukang cukur,” bebernya.

    Bila dibanding kondisi awal ia mangkal di trotoar Peterongan, kini ia tak punya saingan lagi. Semua tukang tukur DPR sudah termakan usia dan hanya menyisakan dirinya seorang.

    “Dulunya di sini ada lima tukang cukur. Lama-kelamaan banyak yang sudah tua, matanya jadi rabun, malah ada yang meninggal dunia. Tinggal saya yang masih hidup,” tuturnya.

    Ongkos sekali cukur rambut terbilang murah. Munawir hanya mematok tarif Rp 10 ribu per kepala. “Yang dulunya saya pasang tarif Rp 2.500. Sekarang jadi Rp 10 ribu. Masih murah, Mas ketimbang potong rambut di salon maupun di kios tukang cukur Madura,” tandasnya. (far)