Home > JATENG RAYA > Bumbu Ajaib dari Tanah Arab, Rahasia Sedapnya Gulai Bustaman

Bumbu Ajaib dari Tanah Arab, Rahasia Sedapnya Gulai Bustaman

Gule Bustaman lengkap dengan nasi dan bawang merah mentah sebagai pendamping. (foto: metrosemarang.com/Fariz Fardianto)

SEMARANG – Hari Selasa (12/9) siang, Qomariah tampak sibuk merajang bumbu-bumbu rempah di dalam warungnya, Jalan Mataram, Semarang. Terletak hanya 500 meter dari Kampung Bustaman, di sebuah warung gulai kambing pojok Jalan Mataram itulah, Qomariyah saban hari menggantungkan hidupnya.

Berbekal resep turun-temurun dari keluarganya, perempuan berusia 60 tahun ini sangat telaten melayani para pelanggannya. Kedua tangannya terlihat lincah tatkala memotong daging-daging kambing pesanan pelanggannya.

“Di sini hanya menyediakan daging kepala kambing, bisa memesan lidah, kuping, mata maupun rajangan kulitnya,” ungkap Qomariyah saat metrosemarang.com menyambangi warungnya.

Pemilihan kepala kambing sebagai bahan baku gulainya bukanlah tanpa alasan. Sebab, menurut Qomariyah, daging kepala kambing sejak lama sangat mahsyur rendah koresterol.

Kaki kambing juga digunakan sebagai bahan baku gulainya karena berkhasiat tinggi. Diakuinya kaki kambing kerap digemari oleh warga peranakan Tionghoa. Ia bilang gulai-gulai yang khusus dijual oleh warga Bustaman punya citarasa unik tersendiri. Kuahnya yang kecokelatan terasa sedap bila dibanding gulai racikan pedagang lainnya.

Mengolah gulai Bustaman pun tak bisa sembarangan. Ia mengatakan mula-mula parutan kelapa digoreng hingga kering menjadi srundeng. Kemudian srundeng yang sudah diolah sedemikian rupa ditumbuk hingga mengeluarkan tetesan minyak kelapa. Minyak kelapanya lalu dicampur pada air mendidih sampai menjadi kuah.

“Ini yang jadi ciri khasnya Bustaman. Tanpa santan. Hanya memakai minyak srundeng,” akunya. Pemilihan rempah yang kaya rasa itu semakin lengkap dengan tambahan kapulaga Arab. Ia menjelaskan kapulaga Arab membuat aroma gulainya lebih sedap. “Saya dapat kapulaganya langsung dari Arab Saudi,” bebernya. Jahe merica.

Ia menyarankan kepada para pelangannya agar diberi sedikit jeruk nipis sebagai penambah rasa sesuai selera. Ia mengatakan sudah 17 tahun terakhir berjualan gulai asli Bustaman. Saban hari ia berjualan mulai pukul 10.00 WIB sampai 16.30 WIB sore.

Seporsi gulainya seharga Rp 30 ribu, harga yang sepadan untuk sebuah masakan legendaris yang kaya rasa. Dalam sehari ia menghabiskan sedikitnya 7 kilogram daging kepala kambing. Namun bila sedang dapat banyak pesanan, stok dagingnya ditambah sebanyak 10 kilogram.

Pelanggannya sudah merambah keluar kota macam Rembang dan daerah-daerah lainnya. Untuk dalam kota, paling tidak ada 30 pembeli yang mampir ke warungnya.

Pesatnya penjualan gulai Bustaman tak bisa dilepaskan dari perjuangan kakek buyutnya pada masa lampau. Bustaman semula ditempati oleh penjagal kuda. Mayoritas warganya kemudian beralih menjadi tukang jagal kambing seiring masuknya pengaruh seorang ulama asal Kudus bernama Kyai Bustam yang masuk ke kampung tersebut.

Lambat-laun, warga Bustaman kemudian berjualan daging kambing. Sesekali dimasak untuk kebutuhan keluarga masing-masing. “Nenek saya lalu jadi orang pertama di Bustaman yang mencoba berjualan gulai kambing di pinggir jalan dan ditiru warga lainnya sampai sekarang,” tuturnya. (far)

Ini Menarik!

Borobudur Marathon, Sejumlah Jalan Disterilkan

Share this on WhatsAppMAGELANG – Bank Jateng Borobudur Marathon (BJBM) 2017 yang digelar Minggu (19/11), …

Silakan Berkomentar