Beranda JATENG RAYA METRO SOLO Bukan Lagi Ancaman, Stunting Sudah Terjadi Pada 495 Bayi di Solo

Bukan Lagi Ancaman, Stunting Sudah Terjadi Pada 495 Bayi di Solo

124
0
jumlah bayi stunting di solo
Seorang balita sedang menjalani pemeriksaan stunting di Posyandu Permata Bundah, Manahan, Solo. (foto: metrojateng.com/MJ-25)

SOLO – Sebanyak 495 bayi di bawah dua tahun di Solo mengalami stunting atau tumbuh kerdil. Jumlah tersebut mencapai 3,2% dari jumlah keseluruhan bayi yang ada di Kota Solo. Jumlah ini dianggap masih kecil, jika dibandingkan dengan data nasional, sebesar 37% atau 9 juta anak.

Namun Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih mengatakan kasus tersebut harus ditangani secara serius, dengan tidak mengabaikan jumlahnya. “Kalau melihat dari jumlah di Solo sendiri cukup bagus ya, tapi kalau bicara soal kesehatan, saya pun tidak mau ada kasus stunting di Solo,” ujarnya, Selasa (13/3).

Bila merujuk pada data, secara keseluruhan jumlah anak di kota Solo terdapat  15.191. Siti mengaku faktor kesehatan hanya menyumbang sampai 30% saja masalah kekerdilan ini, dan 70% nya adalah faktor non kesehatan. Ia pun mengajak masyarakat dan dinas terkait untuk bersama-sama menyelesaikan hal tersebut.

Sementara itu, Ketua Tim Pengerak PKK Kota Solo, Endang Rudyatmo menjelaskan bayi stunting terjadi apabila tinggi sang bayi tersebut lebih pendek dari tinggi rata-rata bayi di Indonesia. Untuk bayi perempuan, berumur 3 bulan seharusnya memiliki tinggi minimal 55,6 cm, 6 bulan memiliki tinggi 61,2 cm, 9 bulan 65,3 cm, hingga 18 bulan 74,9 cm.

Sedangkan bayi laki-laki, berumur 3 bulan seharusnya memiliki tinggi minimal 57,3 cm, 6 bulan memiliki tinggi 63,3 cm, 9 bulan 67,5 cm, hingga 18 bulan 76,9 cm.

“Kita bersama posyandu di tiap kampung selalu rutin melakukan pengecekan terhadap anak dengan menggunakan tikar ukur pertumbuhan tinggi bayi, kita berharap bisa lebih cepat megetahui dan mendapatkan kecukupan gizi bagi anak penderita stunting melalui alat tikar tersebut,” jelasnya. (MJ-25)