Home > HEADLINE > Bubur India Khas Masjid Pekojan, Resepnya Berumur Ratusan Tahun

Bubur India Khas Masjid Pekojan, Resepnya Berumur Ratusan Tahun

Bubur India khas Masjid Pekojan

SEMARANG – Wisnu Tunjung bergegas memanjatkan doa saat kumandang azan Maghrib terdengar di Masjid Jami Pekojan, Semarang, Senin (29/5). Tak butuh bagi dirinya dan ratusan jemaah lainnya untuk memulai menyantap bubur India sebagai hidangan khas yang ada di situ.

“Ada yang kurang (saat puasa) kalau tidak ke sini. Sehingga saya pasti menyempatkan waktu datang ke Masjid Pekojan. Tentunya ada hal berbeda karena ada sajian bubur india,” kata Wisnu kepada metrosemarang.com.

Ia menganggap porsi bubur India selalu mengenyangkan perutnya. Dengan takaran dua centong bubur yang diwadahi mangkok, ia bercerita bahwa rasanya sangat pas dan nikmat untuk berbuka puasa.

“Kalau di rumah makan seporsi pasti masih tambah. Tapi herannya kalau di sini semangkok bubur sudah mengenyangkan,” lanjutnya.

Ia pun menuturkan usai menikmati bubur India, dirinya biasanya melanjutkan salat Maghrib di dalam masjid. Sebuah kehangatan muncul saat salat berjamaah bersama para jemaah lainnya.

Masjid Pekojan merupakan tempat peribadatan yang dibangun warga keturunan Koja di Jalan Petolongan berusia ratusan tahun. Ini jadi masjid sarat sejarah lantaran menyimpan rekam jejak kedatangan saudagar Koja dari Pakistan.

“Suasana terawih di sini memang berbeda. Banyak sekali tauziyah dan hikmah yang dapat dipetik. Setiap tahun, saya selalu berusaha memperbaiki ketakwaan,” jelasnya.

Dengan kondisi masjid yang sederhana dan kecil, ia merasa lebih khusyuk beribadah. Ia mengatakan bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Makanya, sekali dua kali saya pasti singgah ke sini. Lagian saya tinggalnya di Genuk, jauh dari pusat kota, mendingan berbuka di Pekojan dulu,” kata pria 60 tahun tersebut.

Sedangkan bagi Agung Adi S, berbuka puasa di Masjid Pekojan memunculkan kehangatan dalam kebersamaan umat Muslim.

“Menu bubur India jadi makanan klangenan buat saya. Hidangannya sama. Tidak ada perbedaan sama yang lainnya. Bahkan banyak jemaah dari luar kota. Benar-benar istimewa,” ungkap pria yang tinggal di Kampung Gedong Selatan Semarang tersebut.

Ahmad Ali, juru masak bubur India menyampaikan resepnya ia dapatkan turun-temurun dari kakek buyutnya yang berasal dari Koja Pakistan. Tak mudah bikin bubur India, katanya.

Ia harus mengolah ragam bumbu selama lima jam sejak siang hari hingga menjelang petang.

Bumbu-bumbu yang ia racik itu dari jahe salam, daun pandan, bawang bombay, 15 kilogram tepung beras serta rempah-rempah pilihan lainnya. “Mengaduknya di tungku kayu yang memakan waktu berjam-jam,” sahutnya.

Tiap buka puasa ia menyajikan 200 mangkok bubur. Jumlahnya bisa bertambah tergantung jemaah yang hadir untuk berbuka puasa dan salat terawih. (far)

Ini Menarik!

Konduktor Asal Amerika Akan Ramaikan Konser Sumpah Pemuda

Share this on WhatsAppSEMARANG – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Pemerintah Kota Semarang melalui …

Silakan Berkomentar