BPOM Gerebek Gudang Obat Ilegal Beromzet Ratusan Juta di Semarang

SEMARANG – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI membongkar praktik penjualan obat ilegal di Semarang, Jawa Tengah. Obat senilai Rp 3,5 miliar tersebut sebaian besar merupakan obat injeksi atau disuntikkan.

BPOM membongkar praktik penjualan obat ilegal senilai Rp 3,5 miliar di Semarang. Foto: efendi

Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito mengatakan pengungkapan tersebut bermula dari informasi yang diperoleh dari Balai Besar POM (BBPOM) Pekanbaru. Dimana mereka menemukan praktik penjualan obat injeksi ilegal di wilayahnya dan setelah ditelusuri ternyata berasal dari Kota Semarang.

“Tersangka berinisial UA menjalankan usaha di gudang ini sebagai tempat penyimpanan, pengemasan, dan pengiriman barang. Dugaan sementara, praktik distribusi ilegal ini dilakukan dengan modus menjual obat melalui e-commerce dan media sosial,” kata Penny, Kamis (31/5).

Penny juga mengatakan, untuk pendistribusian UA diduga menggunakan salah satu jasa ekspedisi ke seluruh Indonesia.

Sedangkan gudang obat ilegal tersebut terletak di Jalan Arteri Soekarno Hatta nomor 12, Pedurungan, Kota Semarang. Salah satu nama jasa ekspedisi terpampang di luar gudang. Namun ruko tersebut jarang sekali dibuka.

Dari Tempat Kejadian Perkara (TKP), lanjut Penny, juga ditemukan barang bukti berbagai jenis obat ilegal yang banyak ditemukan di pasaran.

“Total 146 item (127.900 pieces). Antara lain Injeksi Vitamin C, Kalogen, Gluthathion, Tritinoin, obat pelangsing, sibutramine HCL, serta produk skincare dengan nilai mencapai Rp 3,5 miliar,” ungkapnya.

Tak hanya obat-obatan, petugas kemudian menyita semua barang bukti termasuk dokumen catatan penjualan serta tujuh handphone dan lima komputer yang digunakan sebagai alat untuk menjual barang ilegal tersebut.

“Berdasarkan dari dokumen yang ditemukan dan keterangan tersangka UA, usaha dijalankan sejak tahun 2015 dengan omzet 400-500 juta rupiah per bulan,” pungkas Penny.

Tersangka kemudian dijerat dengan pasal 196 dan 197 Undang-undang No.36 Tahun 2009 tenyang kesehatan, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1,5 miliar. (fen)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

53 + = 60

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.