Besok Malam, Teater Emka Pentaskan “Kobong”

CERITA tentang pasar yang terbakar atau kobong dalam bahasa Jawa seringkali terjadi di hampr seluruh pelosok negeri. Berdalih dengan pembangunan pasar yang lebih baik dan modern senantiasa hadir di tengah-tengah penderitaan para pedagang yang telah setia mengais rejeki di tengah hiruk pikuknya para pedagang di pasar.

Cerita tentang kehidupan dan realitas pasar Kobong inilah yang dicoba diangkat oleh Teater Emper Kampus atau Emka dari Fakultas Ilmu Budaya Undip yang akan dipentaskan pada Jumat, 18 Mei 2018 yang bertempat di Ruang Teater (A.2.1) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro pada pukul 19.00 WIB.

Naskah lakon “Kobong” bercerita tentang lika-liku kehidupan pasar, lebih spesifiknya adalah kehidupan orang-orang pasar yang mementingkan kepentingan pribadi.

Sebut saja Pak Untung, sebagai ketua paguyuban pasar menyalahgunakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai ketua paguyuban pasar, yaitu dengan menerima sogokan-sogokan dari para pedagang yang menginginkan kapling pasar yang strategis, seperti yang dilakukan oleh Pak Sidi, Bu Sidi, dan Mbak Ambar. Pak Sidi dan Bu Sidi yang meginginkan kapling pasar yang strategis menyuap Pak Untung dengan susu murni olahan mereka.

Begitu pun Mbak Ambar, memberikan susu yang sudah dibubuhi jampi-jampi agar Pak Untung suka pada Mbak Ambar dan mau memberikan kapling strategis. Midin, Marini, Kombor, tiga serangkai bekas penghuni rumah binaan juga tidak mau kalah. Mereka berusaha menggagalkan undian kapling pasar yang akan dilakukan Pak Untung dengan cara mencuri kocokan kapling pasar.

Cerita ini dibubuhi dengan konflik keluarga antara Pak Sidi, Bu Sidi, Dini (anak dari Bu Sidi), dan Pak Untung. Pak Untung membalaskan dendamnya yang telah tersimpan sejak lama terhadap keluarga Pak Sidi yang telah menyakiti dirinya, terutama Pak Sidi yang telah merebut kekasihnya, Bu Sidi.

Pak Untung membalaskan dendamnya dengan cara merusak Dini yang ternyata adalah anak kandungnya dengan Bu Sidi. Kenyataan bahwa Dini merupakan anak kandung Pak Untung membuat Pak Untung tidak bisa berpikir dengan waras sehingga tanpa sengaja Dini meninggal karena Pak Untung. Selain berurusan dengan batinnya, Pak Untung pada akhirnya juga harus berurusan dengan meja hijau.

Naskah “Kobong” hasil karya anggota Emka Ciptanty ini diharapkan mampu menjadi ajang olah aktor atau karakter dari anggota Teater Emka sehingga diharapkan mampu melahirkan aktor atau seniman yang semakin berkualitas di Kota Semarang khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya. (**)

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

92 − 86 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.