Berawal dari Barang Bekas, Diorama Enggar Diburu Orang Filipina

Enggar Sudrajat mengerjakan dioramanya di lapak Pazaarseni 2017. (foto: metrosemarang.com/Fariz Fardianto)

SEMARANG – Sejumlah warga Semarang riuh berkerumun di pojok ruang pamer festival Pazaar Seni, di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Jumat (20/10). Pandangan mereka tak bisa lepas dari diorama besar yang dipajang di lokasi itu.

Enggar Sudrajat, sang pembuat diorama tak henti-hentinya menyapa para pengunjung festival yang mampir di ruang pamernya.Enggar memulai membuat diorama pada 2011 silam. Ketika itu, ia hanya bermodak cekak.

“Lima puluh ribu rupiah modal saya waktu itu untuk membuat diorama. Saya suka membuat mobil-mobilan, lama-lama dibikin detail menjadi sebuah diorama,” kata anggota Bidang Komite Musik Modern Dekase ini kepadametrosemarang.com.

Bahan-bahan yang ia dapat pun berasal dari limbah. Kala senggang, Enggar tak risih untuk mengais spon, kuas, kertas dan pasir yang jamak ditemui di sekitar rumahnya.

Sebuah diorama ia buat dengan penuh ketelatenan. Diorama dengan ukuran kecil mampu diselesaikannya sehari. Namun, jika skalanya mencapai 1:87 dengan tingkat kerumitan tinggi, maka pembuatannya butuh dua hari.

Menurutnya permintaan diorama saat ini sangat banyak. Enggar sempat keteteran menangani orderan yang didapat dari dalam maupun luar negeri.

“Banyak juga yang dikirim ke luar negeri. Ketika saya memasang harga mulai Rp 800 ribu sampai Rp 8 juta, banyak orderan yang saya terima. Termasuk dari orang Swedia, Amerika Serikat, Filipna, Thailand dan Inggris,” katanya bangga.

Pembeli paling senang memesan diorama bernuansa alam dan pedesaan. Bertempat di rumahnya Jalan Tanggulmas Barat VII Semarang, ia tak pernah berhenti menerima pesanan.

“Sampai ada yang rela antre di bulan Februari 2018 nanti,” sergahnya. Pesanan dari dalam negeri yang kerap dibuatnya berasal dari MabesTNI AD, markas Yon Kavileri Bandung, pabrik-pabrik besar.

Kini, Enggar mampu meraup untung puluhan juta dalam sebulan. Semakin rumit dioramanya, kian besar pula pundi-pundi rupiahnya. Tingginya permintaan membuatnya kini harus cermat menjaga mutu agar tetap stabil. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

52 − 44 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.