Beranda JATENG RAYA EKONOMI BISNIS Begini Cara Petani Ngablak Awetkan Sayuran Saat Musim Hujan

Begini Cara Petani Ngablak Awetkan Sayuran Saat Musim Hujan

37
0
BERBAGI
Petani Desa Sumberejo Ngablak Kabupaten Magelang memanfaatkan teknologi D’Ozone untuk memproses dan menyimpan hasil panen sayuran dari desa tersebut. (Foto: metrojateng.com/Anggun Puspita)
MAGELANG – Memasuki musim hujan hasil panen produk pertanian mulai mengalami penurunan. Para petani pun menyusun strategi agar pasokan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
Seperti yang dilakukan para petani sayuran organik di Dusun Kenteng Desa Sumberejo Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Mereka memanfaatkan teknologi untuk mengawetkan sayuran agar tetap segar hingga di tangan konsumen.
“Hampir setiap hari disini memanen aneka sayuran hingga mencapai 1 kuintal. Namun saat musim hujan sekarang ini produksi panen menurun hingga 5%-10%,” ungkap Ketua Kelompok Tani Mutiara Organik, Eka Manunggal saat ditemui, Selasa (12/12).
Untungnya, para petani setempat memanfaatkan teknologi untuk proses penyimpanan sayuran yang disebut D’Ozone. Alat tersebut sudah digunakan sejak delapan bulan lalu oleh kelompok petani disana. Hasilnya, sangat membantu dalam proses pascapanen hingga penyimpanan komoditas sayuran di Dusun Kenteng Sumberejo Ngablak.
“Sejak menggunakan teknologi bantuan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah ini kami sangat terbantu. Hasilnya sayuran lebih awet dan dapat didistribusikan ke sejumlah daerah, tidak hanya di Jateng tapi hingga Bogor dan Jakarta,” jelasnya.
Untuk mengawetkan sayur mayur hasil panen dengan D’Ozone harus melewati sejumlah tahap. Pertama, setelah dipanen sayur seperti brokoli, wortel, buncis, selada, bit, bayam, dan lainnya dicuci selama 10-15 menit dengan air yang mengandung ozon. Kemudian, sayur ditiriskan dan dikemas.
“Kalau segera dikirim maka sayur tidak perlu masuk tempat penyimpanan. Namun jika harus dikirim besok, sayur bisa masuk ke tempat penyimpanan. Di tempat penyimpanan tersebut sayur akan tetap segar dan bertahan hingga seminggu,” terang Eka.
Melalui proses tersebut petani sayur organik dari Desa Sumberejo menuai sejumlah keuntungan.
Pembina Kelompok Tani Mutiara Organik, Suwondo mengatakan, dengan teknologi ini keuntungan petani bisa meningkat dua kali lipat bahkan lebih dibanding menggunakan proses tradisional.
“Meskipun dengan proses D’Ozone lebih panjang tapi bisa menampung tenaga kerja lebih banyak. Selain itu, sayuran bisa disimpan lebih lama dan untung jadi lebih banyak,” katanya. (ang)