Home > JATENG RAYA > EKONOMI BISNIS > Bagaimana Kami akan Hidup?

Bagaimana Kami akan Hidup?

SUARA BURUH PABRIK ROKOK

 

Buruh PT Sari Tembakau Harum sedang menyelesaikan pembuatan rokok. (foto: metrosemarang.com/Efendi)

 

NURYANTI tampak sibuk menggerakkan tangannya meningkahi alat pembuat rokok di hadapannya. Perempuan 34 tahun itu dulu bekerja di Malaysia sebagai tenaga kerja wanita (TKW) dari Indonesia, dari tahun 2003 hingga 2005. Semenjak PT Sari Tembakau Harum membuka pabrik di Cepiring Kabupaten Kendal tahun 2006, Nuryanti tak lagi kembali ke Malaysia.

Ia memilih bekerja di pabrik rokok itu bersama ratusan perempuan lain. Setiap hari Nuryanti menempuh perjalanan dari Kampung Jambe Arum, Kecamatan Patebon, Kendal. Hingga kini, Nuryanti menjadi tulang punggung keluarganya. Ia memiliki seorang anak berumur enam tahun. Pendapatan suaminya sebagai pedagang mainan keliling, tak menentu.

Tangan Nuryanti yang cekatan masih terus sibuk. Sekilas, ia tampak tak memikirkan apapun kecuali pekerjaan di hadapannya itu. Tapi sebetulnya, terselip rasa resah di hatinya. Sebab jumlah rokok yang harus ia selesaikan, kian hari makin menurun. Diam-diam, Nuryanti mendengar tentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Pertembakauan.

Kabarnya, rancangan aturan itu bakal terus menurunkan jumlah produksi rokok di Indonesia. “Saya takut itu akan mengancam pekerjaan saya,” kata Nuryanti. Sebetulnya ia juga resah dengan gencarnya kampanye bahaya merokok yang dikeluarkan pemerintah. Nuryanti takut kehilangan pekerjaannya.

“Saya harap pemerintah kalau mau membuat kebijakan difikirkan terlebih dahulu. Jangan hanya alasan kesehatan, tapi ini juga untuk keberlangsungan hidup masyarakat banyak,” lanjut Nuryanti.

Tak jauh beda, Tri Setyowati juga merasakan kekhawatiran itu. Perempuan warga Montong, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal itu kini seorang diri menghidupi keluarganya. Suaminya terkena pemecatan dari salah satu pabrik gula di Kendal tahun 2015 lalu. Hingga kini, suaminya belum kembali berpenghasilan tetap.

“Suami di rumah sambil menjual es. Saya punya dua anak. Kehidupan kami bergantung pada pekerjaan di pabrik ini. Meskipun dengan gaji UMK, menurut kami sudah sangat membantu,” ujarnya. Ia takut jika jumlah produksi rokok terus turun, akan merembet pada kebijakan pengurangan karyawan. Bisa jadi ia diberhentikan. Tri khawatir soal bagaimana ia dan keluarganya jika ia berhenti bekerjsa dari pabrik itu.

Beberapa tahun terakhir, jumlah produksi rokok di PT Sari Tembakau harum mengalami penurunan. Awalnya mampu memproduksi 1.700.000 batang rokok per hari kian tahun terus berangsur turun hingga kini hanya memproduksi sekitar 600.000 batang rokok perhari. Jumlah pekerjanya pun kian tahun makin berkurang. Dari awal berdiri tahun 2006 lalu, sekitar 1.700 orang, kini perusahaan tersebut hanya mempekerjakan tak lebih dari 650 orang pekerja.

“Sejak ada program yang menampilkan tentang penyakit akibat merokok pada kemasan, sejak ada tulisan merokok membunuhmu, produksi terus menurun,” ujar Manager Operasional PT Sari Tembakau Harum, Joko Surono.

Joko berharap kepada pemerintah dalam membuat kebijaan untuk tetap memikirkan kepentingan banyak orang. Karena pabrik tersebut juga menanggung hidup ratusan keluarga dengan berbagai persoalan yang dialami masing-masing pegawai. (Efendi)

 

Ini Menarik!

Menikmati Desa dari Bangunan Kolonial Hotel Garuda

Share this on WhatsApp   BERADA tak jauh dari Gunung Telomoyo, Hotel Garuda yang merupakan …

Silakan Berkomentar