Home JATENG RAYA 9 Juta Balita Stunting, Indonesia Peringkat 5 Negara Kurang Gizi

9 Juta Balita Stunting, Indonesia Peringkat 5 Negara Kurang Gizi

15
0
SHARE

SEMARANG – Pertumbuhan tidak maksimal (stunting) mengancam anak-anak berusia di bawah lima tahun (balita). Kondisi itu mendorong sejumlah pihak untuk menekan angka stunting melalui perbaikan gizi sejak dini.

Dewan Pembina Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), Fasli Jalal mengatakan, stunting berpotensi mengancam generasi mendatang menjadi generasi yang hilang.

 

Dewan Pembina Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), Fasli Jalal menjadi pembicara di seminar kesehatan Mencegah Stunting Meningkatkan Daya Saing Bangsa di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang, Selasa (13/2). (Foto: metrojateng.com/Anggun Puspita)

 

 

‘’Kekurangan gizi pada usia dini dapat meningkatkan angka kematian untuk bayi dan anak-anak. Mereka menjadi mudah terserang penyakit dan kerja otak menjadi tidak optimal sehingga menurunkan kemampuan kognitif,’’ katanya di seminar kesehatan Mencegah Stunting Meningkatkan Daya Saing Bangsa di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang, Selasa (13/2).

Tercatat, hampir 9 juta anak di bawah usia 5 tahun mengalami pertumbuhan yang tidak maksimal akibat kekurangan gizi kronis. Dengan angka ini, Indonesia berada di peringkat kelima negara yang kekurangan gizi sedunia.

Untuk menekan angka tersebut dibutuhkan sejumlah upaya seperti pencegahan stunting dalam 1.000 hari pertama dari janin hingga umur 2 tahun. Selain itu, juga dibutuhkan partisipasi publik melalui dukungan sejumlah pihak.

Upaya itu dijawab oleh PT Phapros Tbk dengan menurunkan penderita anemia pada remaja dan ibu hamil. Hal ini akan berdampak pada penurunan angka kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis.

Direktur Utama PT Phapros Tbk Barokah Sri Utami mengatakan, pihaknya turut berkontribusi dengan menyuplai tablet tambah darah melalui e-katalog yang tendernya telah dimenangkan. Kandungan tablet tersebut terdiri dari asam folat dan multivitamin yang komposisinya telah disesuaikan dengan standar WHO.

“Alokasi tahun ini kami produksi lebih dari 5 milyar tablet, kemudian akan didistribusikan oleh pemerintah ke fasilitas-fasilitas kesehatan dan bisa didapatkan oleh masyarakat dengan gratis,” katanya.

Selain itu, PT Phapros Tbk juga memiliki program tanggung jawab sosial perusahaan yang mendukung program pemerintah seperti mendirikan pos pelayanan terpadu (Posyandu), sosialisasi dan edukasi tentang pencegahan stunting kepada Forum Posyandu Kota Semarang serta program minum tablet tambah darah bagi remaja putri di Semarang. (ang)